Wandering Season, Sisi Lain Mahitala Unpar
KOMUNITAS PERISTIWA

Wandering Season, Sisi Lain Mahitala Unpar

Bagi sebagian besar orang, Mahasiswa Parahyangan Pencinta Alam (Mahitala) Universitas Katolik Parahiyangan (Unpar) Bandung diasosiasikan dengan wadah berkumpulnya mahasiswa yang menggemari petualangan di alam. Hal ini terlihat dari berbagai program Mahitala yang sudah banyak dikenal masyarakat seperti ekspedisi pendakian tujuh puncak tinggi di dunia (seven summits expedition).

Namun di sisi lain, Mahitala tidak hanya soal petualangan pribadi dan kelompok semata. Mahitala juga memiliki kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.

Salah satunya adalah Wandering Season, yaitu sebuah acara tahunan sebagai kegiatan pendewasaan untuk setiap anggota Mahitala. Dalam kegiatan ini anggota Mahitala Unpar dilibatkan untuk melakukan ekspedisi sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Wandering Season mencakup mountaineering, climbing, caving, diving, rafting, dan pengamatan masyarakat tradisional. Pengamatan masyarakat tradisonal yaitu melakukan observasi terhadap suku-suku yang tinggal di pedalaman, dan masih menganut kepercayaan dan kebudayaan tradisional yang sangat kuat.

Tahun ini untuk kegiatan Pengamatan Masyarakat Tradisional berlangsung Juli-Agustus 2016. Lokasi berlangsungnya PMT yaitu di Pulau Seram, Maluku Tengah. Dalam kegiatan tersebut Mahitala hidup bersama dengan masyarakat suku Nuaulu selama kurang lebih dua minggu.

Maria Angela Handoyo, anggota Mahitala Unpar mengatakan, PMT bukan sekedar kegiatan mengamati masyarakat dari jauh. Pesertanya diharapkan untuk terlibat langsung dan merasakan kebudayaan dalam setiap sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. “Mereka tinggal, makan dan menjalani keseharian, sesuai dengan apa yang dilakukan masyarakat,” ungkap Maria.

Nantinya, hasil dari kegiatan ini akan dipublikasikan kepada masyarakat umum. Kemudian dilaporkan secara ilmiah kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

“Tidak mudah untuk mempersiapkan PMT, karena pesertanya membutuhkan pengetahuan yang baik tentang masyarakat yang akan diobservasi. Apalagi, masyarakat tradisional sendiri seringkali menjaga jarak dengan orang luar,” ungkapnya.

Bagi Maria, Mahitala tidak hanya belajar dari masyarakat dan lingkungan saja. Anggota Mahitala berkontribusi langsung untuk meningkatkan kehidupan masyarakat. Hal yang paling mudah adalah berbagi ilmu, dengan mengajar untuk masyarakat lokal.

Selain itu, tim Mahitala juga membawa buku dan peralatan sekolah untuk anak-anak, seperti yang dilakukan di Bengkulu tahun ini. Sebelumnya adalah pembaharuan tali jalur pendakian di Puncak Carstensz (Carstensz Pyramid), Papua. Unik, karena tidak semua pendaki bisa melakukan hal tersebut.

Prosesnya melelahkan dan cukup membahayakan, apalagi di medan pegunungan Carstensz yang sulit. Tapi, dengan membaharui jalur pendakian, Mahitala berkontribusi dalam keselamatan para pendaki yang hendak menaklukkan puncak tertinggi di Indonesia tersebut.

Kemudian Mahitala juga melakukan kegiatan konservasi langsung terhadap lingkungan. Salah satunya ketika tim diving dari Mahitala berkunjung di Kepulauan Seribu.

Selain menikmati alam bawah laut, mereka juga turut serta memperbaiki terumbu karang yang rusak akibat perubahan lingkungan. Saat ini, kawan-kawan Mahitala sedang mempersiapkan diri untuk menyambut anggota baru. Selain itu, dalam waktu dekat, tim Woman of Indonesia’s Seven Summits Expedition (Wissemu) akan kembali berangkat dalam ekspedisi menaklukan Vinson Massif, puncak tertinggi di Antartika. (sak)