Wisma Kenalkan Surabaya Akseliterasi
PEMERINTAHAN PERISTIWA

Wisma Kenalkan Surabaya Akseliterasi

Walikota Surabaya Tris Rismaharini menyatkan perlunya keseimbangan antara literasi untuk mendukung imaginasi dan kreativitas anak. “Anak-anak harusnya dikenalkan budaya membaca, baru kemudian bersentuhan teknologi. Sekarang justru sebaliknya. Anak-anak sudah mengenal teknologi,” kata Risma dalam acara launching Surabaya Akseliterasi di Graha Sawulanggaling, Kantor Pemkot Surabaya, Rabu (24/8).

Menurut walikota, kebiasaan membaca memiliki beberapa pengaruh positif membentuk karakter anak. Membaca melatih anak bebas berimajinasi. Semisal saat membaca kalimat ‘burung bersuara merdu’, maka, anak yang membaca akan membayangkan seberapa merdu suara burung. Sementara bila melihat dari gadget hanya akan bisa melihat/mendengar saja.

“Dengan membaca buku dan berimajinasi, anak-anak akan bisa berpikir kreatif. Ini yang penting. Sebab, kita harus membangun sumber daya manusia yang bisa survive di kondisi apapun,” jelas walikota yang mengatakan semasa kecil selalu membaca buku sebelum tidur.

Walikota peraih penghargaan Ideal Mother dari Universitas Kairo Mesir ini menyebut, Pemkot Surabaya sangat concern mendukung hidupnya budaya literasi di Kota Pahlawan. Parameternya, kini sudah ada lebih dari 1.000 perpustakaan/taman bacaan di Surabaya yang tersebar di kampung-kampung, sekolah, taman kota, pondok pesantren ataupun mobil keliling.

“Untuk budaya literasi ini, di Surabaya sudah jalan sejak beberapa tahun lalu. Sekarang volumenya kita tingkatkan dan sudah lebih baik dibanding kota lainnya,” sambung walikota.

Kepala Badan Kearsipan dan Perpustakaan (Baperpus) Surabaya, Arini Pakistyaningsih mengatakan, Surabaya Akseliterasi ini meliputi empat kegiatan. Lomba kampung literasi, lomba orangtua peduli pendidikan anak, lomba pustakawan berprestasi dan fasilitator literasi.

Dijelaskan, untuk kampung literasi, akan dilihat kampung mana yang memiliki tempat belajar menyenangkan dan menfasilitasi anak-anak belajar. Lomba orangtua peduli pendidikan anak, bertujuan mengajak orangtua peduli pada anak-anak karena memang pendidikan bukan hanya wewenang pihak sekolah atau guru belaka.

“Nanti ada kriterianya,” kata Arini. Semisal anak-anaknya berhasil dan menjadi manusia seutuhnya yang cerdas, terampil, punya jiwa sosial dan spiritualnya bagus. Semua kegiatan ini, katanya, untuk memotivasi masyarakat agar lebih mencintai literasi. (sak)