Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Kapal Padewakang Memiliki Jenis Kelamin

Kapal Padewakang Memiliki Jenis Kelamin

SENI BUDAYA redaksi30/10/2017 - 16:00 WIB

Kapal itu setinggi hampir 3 orang laki-laki dewasa. Panjangnya mencapai 30 meter. Tampak 12 kayu penyangga kapal menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, menjaga agar badan raksasanya tidak roboh.

Perlu usaha yang agak payah untuk naik menuju buritan kapal yang baru akan selesai dibuat 2 bulan lagi tersebut.

Diatas tampak 3 orang sedang membengkokkan kayu sepanjang 2 meter untuk dipasang di ujung haluan. Salah satu pekerja menjelaskan bahwa kami tidak sedang berdiri di geladak utama.

Mengejutkan, rupanya kapal ini akan lebih tinggi lagi. Tempat yang tadinya kami kira geladak utama nantinya akan menjadi restoran di dalam kapal.

Kapal yang sedang digarap oleh Haji Muhammad Djafar dan anaknya ini adalah jenis Padewakang, salah satu model kapal khas Sulawesi Selatan selain Pinisi. Kapal Padewakang berusia lebih tua dari kapal Pinisi.

Haji Muhammad Djafar dijuluki “Panrita Lopi” yaitu tokoh adat yang ahli membuat perahu, di Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Diperkirakan, kapal ini telah dipergunakan oleh orang Makassar pada abad ke-16 untuk mencapai benua Australia. Keunikan dari kapal padewakang adalah layarnya berbentuk segi empat. Bentuk kapal dengan layar seperti ini juga terdapat dalam relief kapal pada candi Borobudur.

Melihat pembuatan kapal tradisional disini cukup mengejutkan. Tidak seperti teknologi modern saat ini dalam membuat kapal, disini semua dilakukan dengan cara yang masih tradisional. Semua peralatan yang digunakan berasal dari kayu. Terlihat hanya sebuah bor dan las listrik alat modern yang digunakan.

Bagi seorang Panrita Lopi, ilmu pasti dalam pembuatan kapal tidak sepenuhnya berlaku. Mereka lebih mengandalkan pengalaman dan perasaan. Perahu yang sedang dibuat sekarang misalnya, Muhammad Djafar tidak membutuhkan design atau gambar.

Hanya mengandalkan perasaan. Demikianlah yang dilakukan nenek moyangnya selama berabad abad dan turun temurun. Kecuali jika ada permintaan design khusus dari si pemesan kapal.

Metode yang bertolak belakang dengan metode modern juga masih lekat dengan tradisi pembuatan kapal di wilayah Tanahberu ini. Bahkan, ritual-ritual khusus sebelum dan sesudah pembuatan masih dilakukan. Misalnya ritual Sambung Lunas, pelarungan lunas dan upacara Selamatan.

Menurut Rahma Djafar, anak keenam dari Muhammad Djafar, para Panrita Lopi memperlakukan sebuah kapal seperti tubuh manusia dan kadang meyakini sebuah kapal memiliki jenis kelamin.

“Berdasarkan perasaannya, seorang ahli kapal dapat mengatakan jenis kelamin sebuah kapal ketika sudah setengah jadi, apakah ini kapal laki-laki atau perempuan,” ujarnya.

Ahmad Abdul, Penyusun Dokumentasi dan Publikasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, bahkan mengatakan dahulu seorang Panrita Lopi dapat mengetahui nasib kapal yang dibuatnya. ”Menurut cerita, mereka bisa tahu kapal yang dibuatnya akan tenggelam oleh apa atau karam dimana”. (ist)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.