Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Multiplier Effect dari Seni dan Budaya

Multiplier Effect dari Seni dan Budaya

SENI BUDAYA redaksi30/10/2017 - 12:00 WIB

Kesenian dan kebudayaan memiliki dampak peningkatan (multiplier effect) yang cukup besar jika dikemas secara profesional. Untuk itu, menangani aspek kesenian dan kebudayaan dibutuhkan penanganan yang tepat dan benar.

“Jawa Timur itu kaya akan kesenian tradisional yang terserak di setiap daerah. Apabila dibina, dibimbing, diberi sarana, dikemas dan diolah secara profesional akan mempunyai multiplier effect yang cukup besar,” kata Wakil Gubernur Jatim Drs Saifullah Yusuf saat membuka Jatim Art Forum 2017 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), di Area Monumen Kapal Selam Surabaya, Jumat (27/10).

Lebih lanjut dirinya mencontohkan Tari Gandrung dari Banyuwangi. Setelah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, diberikan sarana dan diolah secara profesianal akhirnya dikenal oleh masyarakat internasional.

“Dan terbukti, sekarang banyak wisatawan nusantara dan manca negara yang ingin melihatnya di Banyuwangi menyebabkan jumlah wisatawan yang datang ke Banyuwangi meningkat dan pada akhirnya mengungkit ekonomi Kabupaten Banyuwangi,” terangnya.

Selain memiliki dampak yang cukup besar, menurut Gus Ipul – sapaan Saifullah Yusuf , juga memiliki fungsi yang cukup penting. Dampak tersebut salah satunya untuk membasuh pikiran agar menjadi lemah lembut. Sehingga segala permasalahan yang timbul dapat diselesaikan dengan damai. “Jadi setelah olah raga dan olah pikir, seni dan budaya berfungsi untuk membasuh pikiran kita,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Gus Ipul juga memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada para seniman dan budayawan Jatim yang tidak pernah lelah dan putus asa dalam berkiprah menggali, memelihara dan mengembangkan kesenian yang ada di Jatim.

“Apresiasi yang setinggi-tingginya dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk para seniman dan budayawan Jawa Timur yang tak pernah lelah dan putus asa dalam mengembangkan kesenian Jawa Timur,” ungkapnya.

Disamping itu, Gus Ipul menyampaikan keinginannya untuk berguru kepada para seniman dan budayawan agar bisa menciptakan strategi yang dapat menjadikan Jatim menjadi provinsi yang damai, makmur dan berakhlak.

Ketua DKJT Taufiq ‘Monyong’ Hidayat mengatakan Jatim Art Forum 2017 merupakan acara rutin untuk memeriahkan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-72. Ada tiga rangkaian acara yaitu Festival Musik Bambu yang menjadikan musik bambu yang ada di Jawa Timur menjadi Back Sound di setiap hotel yang ada di Surabaya menggantikan musik barat.

Acara lainnya pertunjukan 1.500 orang kesurupan di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya. Kesurupan yang diadakan Kelompok Turonggo Seto Kinasih dari Pasuruan bisa sebagai terapi pengobatan pecandu narkoba. Dan ketiga Jatim Art Forum 2017. “Budaya dan seni harus dipelihara dan dikembangkan untuk membasuh kaki-kaki kotor dari hiruk-pikuk pergulatan ekonomi dan politik,” ungkapnya. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.