Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi
  • Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral
  • RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas
  • Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik
  • Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang
  • ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi
  • Khofifah Tinjau SPMB 2026 di Surabaya, Antrean Lebih Tertib dan Layanan Meningkat
  • Khofifah Sambut Jemaah Haji Kloter I, Apresiasi Layanan Imigrasi Digital
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»KESEHATAN»Kasus Langka Kanker Ovarium pada Bayi

Kasus Langka Kanker Ovarium pada Bayi

KESEHATAN redaksi26/10/2024 - 12:00 WIB

Kasus diagnosis bayi berusia 19 bulan di Malaysia yang menderita kanker ovarium baru-baru ini menarik perhatian publik. Penemuan ini menggugah keprihatinan karena kanker ovarium biasanya menyerang wanita dewasa.

Menanggapi hal itu, dr Pungky Mulawardhana SpOG Subsp Onk, Dokter Spesialis Kandungan dan Onkologi memberikan penjelasan lebih lanjut terkait kasus ini.

Dokter Pungky menjelaskan bahwa kasus kanker ovarium pada bayi sangat jarang terjadi karena kanker ovarium dengan tipe kanker epitelial yang paling umum menyerang wanita usia lanjut.

Namun, Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) tersebut menambahkan, tetap ada kemungkinan kasus non-epithelial dapat menyerang bayi dan anak-anak.

“Kasus kanker ovarium pada bayi maupun anak tetap mungkin terjadi, namun sangat jarang ditemukan. Akan tetapi, kemungkinan saat ini peningkatan jumlah diagnosis kanker ovarium semakin meningkat karena mudahnya akses layanan kesehatan. Hal ini memungkinkan dokter lebih cepat menemukan dan mendiagnosa kanker,“ jelas dr Pungky.

Meskipun faktor spesifik penyebab kanker ovarium pada bayi belum jelas, dr Pungky menekankan bahwa ada peran faktor genetik dan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa terdapat faktor onkogen yang dapat menjadi pemicu penyakit ini, seperti merokok, nutrisi buruk, dan paparan radiasi.

“Tubuh kita terlindungi oleh anti-onkogen, tetapi ketika perlindungan ini bisa kalah oleh kekuatan onkogen, kanker bisa berkembang. Faktor genetik juga dapat mempengaruhi kanker, seperti mutasi gen BRCA yang dapat meningkatkan risiko kanker,” jelas dr Pungky.

Dokter Pungky juga menjelaskan gejala awal kanker ovarium sering kali tidak spesifik. Oleh karena itu, diagnosis dini pada penyakit ini agak sulit. Namun, pada stadium awal, biasanya terdapat beberapa gejala, seperti mual, kembung, serta nafsu makan menurun.

“Pada stadium lanjut, perut bisa membesar dan tubuh menjadi sangat kurus. Maka dari itu, orang tua perlu cepat memeriksakan serta waspada jika anak mereka menunjukkan tanda-tanda tidak normal, seperti susah makan atau perut yang membesar,” ucapnya.

Walaupun belum ada cara pasti untuk mencegah kanker ovarium, dr Pungky menyarankan untuk melakukan screening genetik. Ia berkata bahwa di beberapa negara maju terdapat klinik kanker keluarga (Familial Cancer Clinic) yang membantu memetakan risiko kanker dalam keluarga melalui tes genetik.

“Jika nanti terdapat mutasi BRCA, pasien bisa menjalani pemantauan rutin, seperti USG tahunan, atau bahkan tindakan lebih radikal, seperti pengangkatan ovarium dan payudara untuk mencegah kanker berkembang,” ungkapnya.

Di Indonesia sendiri, fasilitas ini belum umum. Oleh karena itu, orang tua dapat mengurangi risiko terjadinya kanker ini dengan menjalani gaya hidup sehat serta menghindari paparan karsinogen, seperti merokok, makanan olahan cepat saji, dan stress berlebihan. “Pencegahan memang sulit, tetapi dengan waspada dan gaya hidup sehat, risiko bisa kita kurangi,” pungkas dr Pungky. (ita)

dr Pungky Mulawardhana SpOG Subsp Onk Unair
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi

02/06/2026 - 21:50 WIB

Comments are closed.

D-8 Youth Dialogue UNAIR Soroti Ketahanan Energi, Peran Anak Muda Dinilai Penting dalam Mendorong Inovasi

03/06/2026 - 19:21 WIB

Dishub Surabaya Tempuh Proses Hukum Usai Dugaan Pencurian Rambu Parkir di Satpas Colombo Viral

03/06/2026 - 19:05 WIB

RICH Pakal Jadi Ruang Belajar Bahasa Inggris Gratis, Ratusan Anak Antusias Ikut Kelas

03/06/2026 - 18:57 WIB

Chelsea Rilis Jersey Kandang 2026-2027 dengan Strategi Peluncuran Unik

02/06/2026 - 22:55 WIB

Cross Musea Pertiwi 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan AI dan Wayang

02/06/2026 - 22:01 WIB

ITS Perluas Kerja Sama Global dengan HSE Rusia, Fokus Sains dan Teknologi

02/06/2026 - 21:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.