Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Ketekunan Pemuda Buleleng Membawa Gamelan Rindik ke Pasar Ekspor

Ketekunan Pemuda Buleleng Membawa Gamelan Rindik ke Pasar Ekspor

PERISTIWA redaksi29/08/2025 - 15:00 WIB

Gamelan rindik, alat musik khas Bali berbahan dasar bambu, dikenal lewat nuansa alunan yang memengaruhi kondisi psiko-sosial pendengarnya.

Ketekunan dan kerja keras I Gede Edi Budiana, pemuda asal Desa Alasangker, Buleleng, Bali, dalam melestarikan gamelan rindik bambu tradisional patut diacungi jempol.

Pemuda yang akrab disapa Edibud itu tak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tapi juga membawa karyanya menembus pasar ekspor ke negara seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Berbekal keterampilan tangan dan inovasi teknologi, ia mengubah bambu lokal menjadi instrumen bernilai seni tinggi yang memikat dunia.

Gamelan rindik, alat musik khas Bali berbahan dasar bambu, dikenal lewat nuansa alunan yang memengaruhi kondisi psiko-sosial pendengarnya.

Instrumen itu kerap menggambarkan suasana alam, pengalaman hidup, hingga romantisme. Edibud memadukan proses perakitan manual penuh ketelitian dengan sentuhan modern.

Ia menggunakan aplikasi tuner digital untuk menguji nada setiap bilah bambu, memastikan akurasi tangga nada selendro yang dikonversi ke diatonis. “Pendengaran manusia tak sesensitif aplikasi. Ini membantu konsistensi kualitas,” ujar Edibud, di studio dE Percussion, Kota Singaraja, Buleleng, Senin (14/07) lalu.

Minat Edibud pada gamelan berawal dari kegemaran mendengarkan siaran radio dan upacara adat sejak kecil. Tahun 2016, ia memulai usaha dengan merakit rindik dari bambu bekas penjor (dekorasi upacara).

Hasil karyanya laku terjual Rp300.000—langkah pertama menbisniskan warisan budaya. Setelah lulus kuliah ilmu komputer tahun 2018, ia pun kembali ke kampung halaman. Mendirikan workshop “dE Percussion” di selatan Kampus Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja.

Kini, bisnisnya berkembang dengan produk turunan seperti tingklik, angklung, suling, dan kulkul berbahan bambu pilihan: bambu Tabah (khas pegunungan Buleleng) dan bambu hitam dari Jawa. Prosesnya ketat: bambu direndam 2 bulan dalam larutan insektisida dan EM4 agar tahan rayap dan awet.

Pemasaran produk andalannya dipermudah lewat digitalisasi. Edibud memanfaatkan Instagram dan TikTok (@dE Percussion) untuk promosi, menjangkau pasar global. Kisaran harga rindik mencapai Rp1 juta–Rp8 juta per set, tergantung ukiran dan ukuran. Permintaan tinggi datang dari luar negeri hingga kabupaten lain di Bali seperti Denpasar dan Karangasem. Untuk memenuhi pesanan, ia memberdayakan warga sekitar membuat bagian pelawah (struktur dasar) dan ukiran. “Prosesnya lama karena kami utamakan kualitas,” tegasnya.

Di balik kesuksesan ini, Edibud prihatin dengan minimnya regenerasi peminat gamelan rindik. “Banyak pemuda potensial memilih merantau karena faktor ekonomi,” katanya.

Namun, harapannya tak pupus. Dukungan Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng yang fokus pada pengembangan desa wisata seperti Julah, Mayong, dan Batu Ampar bisa jadi sinergi positif. Selama ini, Dispar Buleleng gigih menarik para pelancong dengan mengembangkan pelbagai atraksi budaya termasuk budaya dan ekonomi kreatif warga lokal.

Untuk itu, Kepala Dispar Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, berani menargetkan 1,7 juta wisatawan pada 2025. Jumlah itu terdiri dari 1 juta turis domestik dan 700.000 turis mancanegara.

Seperti dilansir RRI, Senin (03/02) lalu, Dispar Buleleng menggarap destinasi baru seperti Turyapada Tower dan Pantai Binaria Lovina, serta konektivitas berbasis konsep “Triple B” (Bali Utara-Bali Barat-Banyuwangi).

Upaya Edibud membuktikan bahwa pelestarian budaya dan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal bisa berjalan beriringan. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia tak cuma menjaga identitas Bali, tapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong Buleleng sebagai destinasi wisata berkelas dunia. (indonesia.go.id)

gamelan rindik
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.