Peristiwa meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam sekaligus menjadi pengingat pentingnya perlindungan kesehatan mental anak di Indonesia.
Korban, YBR (10), diketahui tinggal bersama neneknya sejak balita di sebuah pondok sederhana. Kondisi keluarga yang serba terbatas serta minimnya pendampingan menjadi latar belakang sosial yang kini disorot banyak pihak.
Guru Besar Sosiologi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Bagong Suyanto, menyebut bahwa anak-anak dalam situasi rentan kerap tidak memiliki ruang aman untuk mengekspresikan tekanan emosional yang mereka alami.
“Anak-anak sering memendam masalahnya sendiri. Tanpa dukungan keluarga dan lingkungan, tekanan psikologis bisa berkembang tanpa terdeteksi,” ungkap Prof Bagong.
Ia menekankan bahwa kesehatan mental anak bukan semata tanggung jawab keluarga inti, melainkan membutuhkan keterlibatan komunitas, sekolah, dan lembaga sosial di tingkat lokal.
Prof Bagong juga menyoroti absennya akses layanan psikologis di wilayah pedesaan sebagai tantangan besar. Menurutnya, kondisi ini membuat anak-anak dari keluarga kurang mampu semakin terpinggirkan secara sosial dan emosional.
“Kita perlu membangun sistem dukungan berbasis komunitas agar anak-anak tidak merasa sendirian menghadapi persoalan hidup,” tambahnya.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah dan pusat dapat memperkuat peran lembaga sosial serta pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan peduli terhadap kesehatan mental anak, terutama di daerah dengan keterbatasan akses layanan dasar. (tas)
