Kiprah alumnus Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menonjol di kancah pendidikan tinggi nasional. Dr. Mujib Hannan, SKM, S.Kep., Ns., M.Kes., lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Wiraraja untuk periode kedua.
Penunjukan tersebut mempertegas peran strategis alumni UNAIR dalam mendorong transformasi tata kelola akademik di berbagai perguruan tinggi. Karier Dr. Mujib di Universitas Wiraraja dimulai dari dosen, kemudian dipercaya menjadi Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, hingga akhirnya menduduki posisi Wakil Rektor I.
Dalam keterangannya, Dr. Mujib menekankan pentingnya kepemimpinan akademik berbasis evidence-based decision making. Menurutnya, kebijakan perguruan tinggi harus disusun berdasarkan data, analisis sistematis, serta penguatan kapasitas internal institusi. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan kebijakan yang tidak bersifat reaktif, melainkan strategis dan berorientasi pada mutu berkelanjutan.
“Transformasi akademik tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan konsistensi dalam membangun sistem yang kuat dan terukur,” ujarnya.
Selain menjalankan fungsi manajerial, Dr. Mujib juga aktif menjaga jejaring akademik dengan almamaternya. Ia terlibat sebagai penguji eksternal pada program Magister dan Doktor di UNAIR. Baginya, peran tersebut merupakan wujud kontribusi timbal balik sekaligus penguatan integritas akademik lintas institusi.
Di tingkat organisasi profesi, ia menjabat Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Kabupaten Sumenep, anggota IAKMI Jawa Timur, Wakil Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jawa Timur, serta pengurus Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Jawa Timur. Keterlibatan ini memperluas jejaring kolaborasi sekaligus memperkuat posisi institusi dalam ekosistem pendidikan tinggi.
Sebagai Warek I, ia mendorong integrasi tridharma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—secara sinergis dan berdampak nyata. Internasionalisasi juga menjadi fokus kebijakannya, melalui perluasan kerja sama luar negeri di bidang riset, publikasi ilmiah, dan pertukaran akademik.
Menurutnya, alumni yang berdampak adalah mereka yang mampu mendorong perubahan sistemik, tidak hanya berorientasi pada capaian personal. Prinsip tersebut menjadi landasan dalam merancang kebijakan akademik guna meningkatkan mutu lulusan dan daya saing institusi.
“Alumni memiliki tanggung jawab moral untuk membawa budaya akademik unggul ke mana pun mereka berkiprah,” tegasnya. (tas)
