Pemerintah Kota Surabaya bergerak cepat mengantisipasi dampak gejolak geopolitik global terhadap stabilitas ekonomi daerah. Langkah tersebut dilakukan menyusul meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah setelah serangkaian serangan yang dilaporkan terjadi di Iran pada akhir Februari 2026. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap harga energi global dan stabilitas ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan bahwa pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi internasional serta menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat terkait langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan. Menurutnya, konflik global berpotensi memicu fluktuasi harga minyak dunia yang pada akhirnya dapat berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan berbagai kebutuhan pokok.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan distribusi energi internasional akibat kemungkinan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan dapat memicu kenaikan harga energi secara global.
Menanggapi potensi dampak tersebut, Eri menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Surabaya telah melakukan berbagai rapat koordinasi dengan pemangku kepentingan untuk membahas langkah antisipasi terhadap potensi inflasi di daerah. Pemkot Surabaya juga akan terus memantau perkembangan harga kebutuhan pokok di pasar hingga beberapa waktu ke depan guna mengukur skala dampak yang mungkin terjadi.
“Situasi global ini perlu kita waspadai bersama. Jika harga minyak dunia naik, maka secara otomatis akan berpengaruh pada harga barang-barang lain, termasuk kebutuhan pokok masyarakat,” ujar Eri, Kamis (5/3/2026).
Sebagai langkah konkret, Pemkot Surabaya menyiapkan berbagai strategi pengendalian inflasi, salah satunya melalui intervensi pasar dengan menggelar program pasar murah di sejumlah wilayah. Program tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus membantu masyarakat memperoleh bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Selain itu, pemerintah kota juga akan memperkuat pengawasan harga di pasar tradisional maupun jaringan distribusi. Koordinasi dengan distributor dan pelaku usaha terus dilakukan guna memastikan ketersediaan stok pangan tetap aman serta mencegah lonjakan harga yang tidak wajar.
Menurut Eri, langkah antisipatif ini penting dilakukan agar dampak konflik global tidak menjalar menjadi tekanan ekonomi yang lebih besar di tingkat lokal. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga stabilitas ekonomi serta memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Prioritas kami adalah menjaga inflasi tetap terkendali di Surabaya. Dengan berbagai langkah yang disiapkan, kami berharap dampak dari situasi global ini bisa diminimalkan,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemkot Surabaya juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia terkait pendataan warga Surabaya yang berada di luar negeri. Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah daerah, warga Indonesia yang berada di kawasan terdampak saat ini dilaporkan dalam kondisi aman.
Menutup pernyataannya, Eri turut mengimbau masyarakat Surabaya agar mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke luar negeri yang tidak mendesak. Imbauan tersebut disampaikan sebagai langkah antisipatif demi menjaga keamanan dan keselamatan warga di tengah dinamika geopolitik global yang masih berkembang. (tas)
