Program pengabdian masyarakat yang dijalankan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) di Desa Palembon, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, menunjukkan hasil yang signifikan. Pendampingan intensif kepada peternak bebek sejak awal 2026 dinilai berhasil meningkatkan produktivitas sekaligus menekan tingkat kegagalan ternak.
Berdasarkan hasil monitoring terbaru, dari total 340 ekor bebek yang dibudidayakan, hampir seluruhnya berkembang dengan baik. Hanya satu ekor yang dilaporkan mengalami kegagalan. Capaian ini menjadi indikator keberhasilan pendekatan berbasis keilmuan yang diterapkan secara berkelanjutan di lapangan.
Penanggung jawab program, Prof Dr Widjiati, menegaskan bahwa hasil tersebut merupakan buah dari kolaborasi antara akademisi dan masyarakat. Ia menilai konsistensi peternak dalam menerapkan materi pendampingan menjadi faktor kunci keberhasilan program ini.
Menurut Prof Widjiati, kegiatan ini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga memastikan implementasi langsung melalui monitoring rutin. Pendekatan tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan peternak dalam mengelola usaha ternak secara profesional.
Salah satu aspek utama yang menjadi perhatian dalam program ini adalah manajemen pakan. Tim FKH UNAIR memberikan pendampingan terkait kualitas dan pola pemberian pakan sebagai langkah strategis untuk menjaga kesehatan serta produktivitas bebek. Pendekatan ini juga menjadi upaya preventif dalam menekan risiko gangguan reproduksi yang kerap terjadi pada peternakan unggas.
Selain itu, program ini juga dirancang untuk mendorong Desa Palembon menjadi sentra produksi bebek di wilayah Bojonegoro. Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan pendampingan berkelanjutan, potensi tersebut dinilai semakin terbuka lebar.
Tidak berhenti pada sektor peternakan, pengabdian masyarakat ini juga diperluas ke bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanganan stunting. FKH UNAIR merancang intervensi berbasis protein hewani dengan menyalurkan bantuan nutrisi seperti telur dan susu kepada anak-anak di wilayah tersebut.
Langkah tersebut akan diperkuat dengan pemeriksaan antropometri secara berkala guna memantau pertumbuhan anak. Program ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu di lingkungan UNAIR, sehingga pendekatan yang diterapkan menjadi lebih komprehensif.
Dengan integrasi antara penguatan sektor peternakan dan peningkatan kesehatan masyarakat, program ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan. Tidak hanya meningkatkan kesejahteraan peternak, tetapi juga berkontribusi terhadap kualitas sumber daya manusia di tingkat desa.
Pendekatan berbasis riset yang diterapkan UNAIR dalam program ini menjadi contoh konkret bagaimana institusi pendidikan tinggi dapat berperan aktif dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. (tas)

