Keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menjadi perhatian di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang terus berkembang. Langkah tersebut dinilai memiliki implikasi terhadap stabilitas energi global, terutama saat konflik kawasan dan situasi di Selat Hormuz masih memengaruhi distribusi energi dunia.
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Fadhila Inas Pratiwi, menjelaskan bahwa keputusan UEA keluar dari OPEC berkaitan erat dengan strategi nasional negara tersebut dalam mengelola sektor energi.
Menurut Fadhila, UEA berupaya memperoleh ruang yang lebih fleksibel dalam menentukan kebijakan produksi minyak tanpa harus mengikuti mekanisme kuota yang ditetapkan organisasi.
Ia menjelaskan bahwa OPEC sejak awal dibentuk sebagai forum koordinasi negara-negara produsen minyak untuk menjaga keseimbangan pasar energi global dan memperkuat posisi negara penghasil minyak di tengah dominasi negara Barat.
Namun, perubahan dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai memengaruhi efektivitas organisasi tersebut dalam mengakomodasi kepentingan seluruh anggotanya.
“Dinamika geopolitik kawasan yang semakin kompleks membuat sebagian negara mulai mempertimbangkan kembali keuntungan strategis dari keanggotaan dalam organisasi internasional seperti OPEC,” ujar Fadhila.
Ia menilai, dalam konteks UEA, kepentingan ekonomi domestik dan strategi energi nasional menjadi prioritas utama dibandingkan mempertahankan solidaritas organisasi.
Menurutnya, ketidakstabilan kawasan serta perubahan peta politik energi global membuat negara produsen minyak cenderung lebih fokus pada kepentingan nasional masing-masing.
Fadhila menambahkan bahwa keluarnya UEA berpotensi memengaruhi kohesi internal OPEC sebagai organisasi pengatur produksi minyak dunia. Sebagai salah satu produsen minyak utama di kawasan Timur Tengah, UEA memiliki kapasitas produksi yang cukup besar sehingga dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global.
Tanpa terikat kuota produksi OPEC, UEA dinilai memiliki keleluasaan untuk meningkatkan produksi minyak sesuai target nasional yang telah direncanakan.
Saat ini, UEA disebut mampu memproduksi sekitar 4,85 juta barel minyak per hari dan menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga mencapai 5 juta barel per hari pada 2027.
“Tambahan produksi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia dalam jangka menengah,” jelasnya.
Menurut Fadhila, peningkatan produksi minyak oleh UEA dapat menciptakan dinamika baru dalam pasar energi internasional. Di satu sisi, pasokan minyak global berpotensi meningkat. Namun di sisi lain, kondisi geopolitik Timur Tengah yang belum stabil tetap menjadi faktor penentu pergerakan harga energi dunia.
Ia menyebut ketegangan kawasan, termasuk potensi gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, masih menjadi perhatian utama pasar global.
Dalam jangka panjang, keluarnya UEA dari OPEC juga dinilai dapat meningkatkan volatilitas harga minyak dunia. Fluktuasi harga energi global tersebut diperkirakan berdampak pada negara-negara yang masih bergantung pada impor minyak, termasuk Indonesia.
Fadhila menjelaskan bahwa perubahan harga minyak internasional dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional melalui peningkatan biaya impor energi dan tekanan inflasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan ketahanan energi nasional agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap perubahan pasar global.
“Indonesia perlu mempercepat diversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak agar stabilitas ekonomi jangka panjang tetap terjaga,” katanya.
Ia menilai pengembangan energi alternatif dan peningkatan investasi pada sektor energi terbarukan menjadi langkah strategis untuk menghadapi ketidakpastian pasar energi internasional di masa mendatang.
Selain itu, diversifikasi sumber energi juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan domestik sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah perubahan geopolitik global yang berlangsung dinamis. (ita)

