Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) atas keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur mempercepat penurunan prevalensi stunting hingga mencapai 14,7 persen pada 2024. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan penurunan stunting terbaik di Pulau Jawa dan peringkat kedua secara nasional setelah Bali berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Penghargaan diberikan dalam Pembukaan Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Persagi 2026 di The Trans Luxury Hotel Surabaya, Jumat (3/7/2026). Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persagi, Doddy Izwardy, menyerahkan penghargaan kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono yang mewakili Gubernur Khofifah.
Persagi menilai kepemimpinan Khofifah berhasil mendorong percepatan penurunan stunting melalui komitmen yang kuat, inovasi kebijakan, serta kolaborasi lintas sektor yang berdampak terhadap peningkatan kualitas kesehatan dan masa depan anak-anak di Jawa Timur.
Berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur turun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024. Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program intervensi gizi dan kesehatan yang dijalankan secara terpadu oleh pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota dan berbagai pemangku kepentingan.
Menanggapi penghargaan tersebut, Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam upaya percepatan penurunan stunting. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai institusi, mulai dari perangkat daerah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, pemerintah desa, hingga Tim Penggerak PKK yang secara konsisten menjalankan program pencegahan stunting di lapangan.
Ia menjelaskan, strategi penurunan stunting di Jawa Timur tidak hanya berfokus pada penanganan balita, tetapi juga mengedepankan langkah pencegahan sejak sebelum kehamilan. Berbagai inovasi telah diterapkan, di antaranya konseling dari rumah ke rumah, pendampingan bagi ibu hamil dengan risiko kekurangan energi kronis, program pendampingan ibu hamil berisiko stunting, hingga edukasi kesehatan bagi calon pengantin sebagai upaya mencegah stunting sejak fase prakonsepsi.
Khofifah menilai pendekatan tersebut mampu memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi sejak awal kehidupan, sehingga intervensi yang dilakukan tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga preventif dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengapresiasi peran Persagi yang dinilai memiliki kontribusi strategis dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Menurutnya, profesi ahli gizi memegang peranan penting dalam memastikan keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya melalui penyusunan menu yang memenuhi standar gizi dan pengawasan kualitas makanan di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia menekankan bahwa pengawasan oleh tenaga ahli gizi menjadi faktor penting untuk menjamin kualitas dan kandungan nutrisi makanan yang diterima masyarakat. Seiring bertambahnya jumlah SPPG di berbagai daerah, kebutuhan terhadap tenaga gizi yang kompeten juga dinilai semakin besar agar program pemenuhan gizi nasional dapat berjalan optimal.
Khofifah berharap penghargaan dari Persagi menjadi motivasi bagi seluruh pemangku kepentingan di Jawa Timur untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, keberhasilan memperbaiki status gizi anak akan menjadi fondasi penting dalam menyiapkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (ita)

