Rasulullah menjadi teladan utama bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Melalui keteladanan, pengorbanan, dan kasih sayangnya kepada umat, Rasulullah menunjukkan bahwa jalan menuju kebaikan tidak selalu mudah, tetapi selalu membawa kemaslahatan.
Di tengah kehidupan modern, masyarakat kerap menyaksikan fenomena ketika nilai-nilai agama diperlakukan layaknya komoditas yang diperjualbelikan. Prinsip-prinsip yang dahulu dijunjung tinggi terkadang dikompromikan demi memperoleh popularitas, keuntungan materi, maupun pengakuan dari lingkungan. Dalam situasi seperti itu, manusia sering kali kehilangan pegangan dan kesulitan menemukan keteladanan yang benar-benar berlandaskan kejujuran.
Bagi mereka yang meluangkan waktu untuk merenung, terutama pada sepertiga malam, terdapat ruang batin yang menghadirkan ketenangan sekaligus kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada waktu itulah, menurut penulis, seseorang dapat merasakan besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya.
Memahami Makna Thoha dan Yasin
Lantunan sholawat yang menyebut nama Thoha dan Yasin telah akrab di telinga umat Islam. Namun, penulis mengajak pembaca untuk memahami makna spiritual di balik kedua sebutan tersebut.
Dalam pandangan penulis, Thoha menggambarkan bagaimana wahyu Allah SWT disampaikan kepada manusia melalui Rasulullah SAW dalam bentuk yang dapat dipahami dan diamalkan. Ilmu yang berasal dari Allah tidak berhenti sebagai konsep, melainkan diwujudkan melalui akhlak, perkataan, dan tindakan Rasulullah.
Sementara itu, Yasin dipahami sebagai simbol kemurnian kebenaran yang bersumber langsung dari Allah SWT. Kebenaran tersebut tidak berubah oleh kepentingan duniawi maupun perkembangan zaman.
Ketika kedua makna tersebut menyatu dalam pribadi Rasulullah SAW, umat manusia memperoleh teladan mengenai bagaimana nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan penuh kasih sayang, keadilan, dan kelembutan.
Pengorbanan Rasulullah untuk Umat
Menurut penulis, tugas dakwah yang diemban Rasulullah bukanlah amanah yang ringan. Penolakan, hinaan, ancaman, hingga berbagai bentuk tekanan menjadi bagian dari perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah Islam.
Al-Qur’an pun menggambarkan beratnya beban dakwah yang dipikul Rasulullah SAW. Namun, beliau tetap istiqamah menjalankan amanah tersebut karena kecintaannya kepada umat.
Kasih sayang itu, menurut penulis, juga tercermin dalam ibadah malam. Rasulullah SAW diwajibkan melaksanakan Shalat Tahajud, sedangkan bagi umat Islam hukumnya menjadi sunnah. Penulis memandang hal tersebut sebagai bentuk kasih sayang Rasulullah yang memilih memikul beban ibadah lebih berat demi memberikan keringanan kepada umatnya.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, Rasulullah diibaratkan sebagai pemimpin kafilah yang rela membawa beban paling berat agar anggota rombongan dapat melalui perjalanan dengan lebih ringan dan selamat.
Beliau menghabiskan malam-malamnya dalam doa, munajat, dan permohonan ampun kepada Allah SWT untuk keselamatan umatnya. Pengorbanan tersebut menjadi bukti bahwa Rasulullah mendahulukan kepentingan umat di atas kepentingan dirinya sendiri.
Meneladani Rasulullah melalui Tahajud
Penulis menilai bahwa keteladanan Rasulullah pada masa kini tidak cukup diwujudkan melalui simbol-simbol keagamaan semata. Lebih dari itu, keteladanan harus diwujudkan melalui kejujuran, keberanian mempertahankan kebenaran, serta kesediaan melayani sesama dengan penuh ketulusan.
Salah satu bentuk meneladani Rasulullah adalah membiasakan diri bangun pada sepertiga malam untuk melaksanakan Shalat Tahajud. Momen tersebut dipandang sebagai kesempatan memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT sekaligus melakukan refleksi diri.
Air mata yang menetes dalam munajat malam, menurut penulis, merupakan bentuk rasa syukur, kerendahan hati, dan ikhtiar memperbaiki diri. Dari kekuatan spiritual tersebut, seseorang diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih sabar, bijaksana, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pada akhirnya, penulis mengajak pembaca menyadari bahwa jalan yang ditempuh Rasulullah memang penuh pengorbanan. Namun, jalan itulah yang diyakini membuka keselamatan bagi umat. Pertanyaannya kemudian, apakah setiap muslim bersedia mengikuti jejak tersebut dengan memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. (ita)

