Airlangga Executive Education Center (AEEC) Universitas Airlangga bersama Center for Governance, Risk, Compliance & Competitiveness (GRCC) menggelar Konferensi Eksekutif Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) sebagai upaya memperkuat tata kelola dan transparansi laporan keuangan perusahaan di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung pada 6–7 Mei 2026 di Hotel Melia Purosani Yogyakarta itu menghadirkan akademisi, praktisi, serta perwakilan perusahaan dan badan usaha milik negara (BUMN). Konferensi tersebut menitikberatkan pada penguatan sistem pengendalian internal dalam penyusunan laporan keuangan agar lebih akurat, transparan, dan akuntabel.
Wakil Rektor Bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis Universitas Airlangga, Prof. Dr. Koko Srimulyo, Drs., M.Si., membuka kegiatan sekaligus menegaskan pentingnya keandalan laporan keuangan dalam mendukung pengambilan keputusan strategis di perusahaan maupun institusi.
Menurutnya, laporan keuangan yang bebas dari salah saji material menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik serta menjaga keberlanjutan organisasi di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
“Laporan keuangan yang akurat bukan hanya kebutuhan administratif, tetapi menjadi dasar pengambilan keputusan strategis perusahaan. Kesalahan dalam laporan keuangan dapat berdampak terhadap kepercayaan pemangku kepentingan,” ujar Prof. Koko dalam sambutannya.
Ia menjelaskan, penerapan Internal Control over Financial Reporting atau ICoFR menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan setiap proses pelaporan keuangan berjalan sesuai standar dan mampu meminimalkan risiko kesalahan, baik yang terjadi secara sengaja maupun tidak disengaja.
Prof. Koko menilai, perkembangan transformasi digital dan meningkatnya kompleksitas bisnis menuntut perusahaan memiliki sistem pengendalian internal yang lebih adaptif dan terintegrasi. Karena itu, penguatan sistem pengawasan internal tidak lagi cukup dilakukan secara administratif, melainkan harus berbasis mitigasi risiko dan pengelolaan yang berkelanjutan.
“Pengendalian internal tidak hanya bersifat reaktif ketika terjadi masalah, tetapi juga harus mampu mengantisipasi potensi risiko sejak awal melalui sistem yang terukur dan terintegrasi,” katanya.
Dalam forum tersebut, peserta juga membahas pentingnya membangun budaya tata kelola yang konsisten di seluruh lini organisasi. Hal itu dinilai menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi perusahaan besar yang memiliki banyak unit bisnis maupun anak perusahaan.
Managing Director Internal Audit Danantara Indonesia, Drs. Ahmad Hidayat, Akt., CA., MBA., mengatakan bahwa implementasi ICoFR memerlukan sinergi antara kebijakan pengendalian internal dan praktik operasional sehari-hari di lapangan.
Menurutnya, banyak perusahaan menghadapi kendala karena sistem pengendalian yang diterapkan belum berjalan secara menyeluruh dan masih terfragmentasi di masing-masing unit kerja.
“Penerapan ICoFR memerlukan pendekatan yang holistik. Pengendalian internal tidak bisa hanya dilakukan pada satu bagian, tetapi harus mencakup seluruh proses bisnis organisasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya penerapan Three Lines of Defense Model sebagai pendekatan pengendalian internal berbasis risiko. Model tersebut terdiri atas tiga lapisan pengawasan, yakni pengelolaan operasional oleh unit kerja, fungsi kepatuhan dan manajemen risiko, serta audit internal independen sebagai pengawas akhir efektivitas sistem pengendalian.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan diharapkan mampu membangun sistem pelaporan keuangan yang lebih kuat dan meminimalkan potensi penyimpangan.
Sementara itu, Group Head of Accounting and Taxation PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Rudi Herdiyantoro, menilai penguatan pengendalian internal memiliki peran penting dalam meningkatkan kepercayaan investor, regulator, hingga masyarakat.
Ia menegaskan bahwa sistem pengawasan internal yang baik tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga menjadi fondasi dalam menciptakan tata kelola perusahaan yang sehat dan berkelanjutan.
“Pengendalian internal yang kuat akan meningkatkan transparansi dan membangun kepercayaan seluruh pemangku kepentingan terhadap perusahaan,” katanya.
Diskusi dalam konferensi tersebut juga menghadirkan pengalaman implementasi ICoFR dari sejumlah perusahaan besar seperti Pelindo, Telkom Indonesia, dan Pupuk Indonesia. Para narasumber memaparkan berbagai tantangan dalam menyelaraskan sistem pengendalian internal di perusahaan yang memiliki banyak entitas dan unit bisnis berbeda.
Senior Executive in Risk Management and Governance PT Telkom Indonesia, M. Rosadi, menjelaskan pentingnya keseragaman standar pengendalian internal di seluruh unit usaha agar sistem pengawasan dapat berjalan efektif dan konsisten.
“Keselarasan standar pengendalian menjadi penting agar setiap unit bisnis memiliki acuan yang sama dalam menjalankan tata kelola dan pelaporan keuangan,” ujarnya.
Pada hari kedua pelaksanaan konferensi, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas studi kasus implementasi ICoFR di berbagai sektor industri. Dalam sesi tersebut, peserta menyusun sejumlah rekomendasi strategis terkait penguatan sistem pengendalian internal berbasis risiko.
Direktur AEEC sekaligus dosen Akuntansi Universitas Airlangga, Dr. Sigit Kurnianto, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi pengendalian internal tidak hanya bergantung pada kebijakan manajemen, tetapi juga partisipasi seluruh elemen organisasi.
Menurutnya, sistem pengendalian internal yang efektif harus menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan agar dapat diterapkan secara konsisten dalam aktivitas operasional sehari-hari.
“Sistem pengendalian internal yang baik perlu didukung seluruh lapisan organisasi sehingga implementasinya tidak berhenti pada kebijakan, tetapi benar-benar menjadi budaya perusahaan,” jelasnya.
Sebagai penutup konferensi, para panelis menyusun Executive Communiqué yang berisi rangkuman hasil diskusi serta rekomendasi strategis untuk memperkuat implementasi ICoFR di perusahaan dan BUMN.
Hasil rekomendasi tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas pengendalian internal, memperkuat transparansi laporan keuangan, serta mendukung terciptanya tata kelola perusahaan yang lebih baik dan akuntabel di Indonesia. (ita)

