Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Ahli UNAIR Soroti Pentingnya Pengungsian Ramah Perempuan di Tengah Maraknya Bencana Alam

Ahli UNAIR Soroti Pentingnya Pengungsian Ramah Perempuan di Tengah Maraknya Bencana Alam

PERISTIWA Tiara AS11/12/2025 - 08:57 WIB
Ahli UNAIR menekankan pentingnya pengungsian ramah perempuan untuk mencegah kekerasan berbasis gender dan memenuhi kebutuhan khusus penyintas bencana.

Peningkatan intensitas bencana alam di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir kembali menyoroti pentingnya fasilitas pengungsian yang aman dan ramah bagi perempuan. Kondisi darurat yang memaksa masyarakat meninggalkan rumah dan tinggal sementara di posko pengungsian kerap memperlihatkan kerentanan yang lebih besar bagi kelompok perempuan.

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dra Myrtati Dyah Artaria MA PhD, menegaskan bahwa bencana sering kali menciptakan ruang tidak aman bagi perempuan. Kombinasi norma sosial, ketimpangan kekuasaan, hingga faktor biologis menjadikan perempuan lebih rentan terhadap berbagai risiko.

Struktur Perlindungan Sosial Melemah saat Bencana

Menurut Prof Myrta, dalam situasi normal masyarakat kerap memiliki pandangan bahwa perempuan adalah pihak yang harus dilindungi. Namun ketika bencana terjadi, struktur perlindungan ini melemah karena setiap orang lebih fokus pada penyelamatan diri.

“Dalam kondisi perlindungan yang longgar, terdapat peluang bagi beberapa oknum untuk memanfaatkannya,” ujarnya.

Perubahan lingkungan sosial secara tiba-tiba—dari ruang privat menjadi tempat penampungan yang berisikan banyak orang—juga meningkatkan potensi kerawanan. Tingkat kerentanan ini sangat dipengaruhi budaya dan cara masyarakat memperlakukan perempuan.

Risiko Kekerasan Berbasis Gender di Pengungsian

Salah satu isu paling menonjol adalah kekerasan berbasis gender (KBG). KBG mencakup kekerasan fisik, seksual, psikologis, ancaman, hingga perampasan kebebasan yang dilakukan berdasarkan identitas gender korban.

Meski dapat menimpa siapa saja, KBG secara global paling banyak menyasar perempuan dan anak perempuan. Prof Myrta menegaskan bahwa akar masalahnya terletak pada ketidaksetaraan gender, penyalahgunaan kekuasaan, dan norma sosial yang merugikan.

“Risiko kekerasan berbasis gender juga dipengaruhi faktor fisiologis. Dorongan agresivitas secara hormonal lebih besar pada laki-laki,” jelasnya.

Ia menyebut budaya patriarki, rendahnya pendidikan, dan relasi kuasa yang timpang sebagai penyebab dominan terjadinya KBG dalam situasi darurat.

Tekanan Psikologis dan Tantangan Tambahan bagi Perempuan

Selain potensi kekerasan, perempuan di pengungsian juga menghadapi tekanan psikologis akibat kehilangan rumah, harta benda, atau anggota keluarga. Prof Myrta menilai bahwa pendekatan empatik sangat diperlukan dalam memberikan pendampingan kepada pengungsi.

“Mereka yang membantu harus bisa menempatkan diri pada posisi para pengungsi. Prioritasnya adalah memenuhi kebutuhan paling mendesak, lalu kebutuhan spesifik lainnya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa kebutuhan perempuan harus dipenuhi sesuai norma yang mereka anut, sehingga pendamping dan relawan perlu memahami konteks sosial budaya sebelum terjun ke lapangan.

Kebutuhan Spesifik untuk Pengungsian Ramah Perempuan

Untuk menciptakan pengungsian yang aman dan ramah perempuan, Prof Myrta menekankan beberapa aspek penting:

  1. Penyediaan ruang privat dan aman
  2. Akses terhadap perlengkapan kebersihan dan sanitasi
  3. Pelayanan kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi
  4. Dukungan psikologis
  5. Mekanisme pelaporan kekerasan yang aman dan rahasia
  6. Staf terlatih dalam penanganan dan pencegahan KBG

“Keamanan, privasi, dan martabat perempuan harus tetap terjaga meskipun mereka berada dalam situasi darurat,” tegasnya.

Mendorong Penguatan Kebijakan dan Respons Lapangan

Pernyataan Prof Myrta menambah urgensi bagi pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan relawan untuk memperkuat standar pengungsian ramah perempuan. Dengan meningkatnya kejadian bencana di Indonesia, upaya sistematis dalam memastikan keselamatan perempuan di pengungsian dinilai semakin penting. (tas)

KBG bencana keamanan perempuan pengungsian kekerasan berbasis gender di pengungsian pengungsian ramah perempuan perempuan penyintas bencana Prof Myrtati UNAIR Satgas PPKPT UNAIR
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.