Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di sektor media digital menjadi sorotan penting dalam lanskap komunikasi global, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hal ini disampaikan oleh pakar media dan komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Rachmah Ida, PhD, dalam forum internasional MACE CONNECT 2026: International Symposium in Communication & Media Research yang digelar secara daring, Selasa (21/4/2026).
Dalam sesi bertajuk Communication Future in Asia: Trends, Challenges, and Collaborative Pathways, Prof. Rachmah Ida menekankan bahwa negara-negara di kawasan ASEAN kini tidak lagi sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan telah berkembang sebagai produsen sekaligus inovator dalam pengembangan AI, termasuk dalam produksi konten media digital.
Menurutnya, adopsi teknologi AI telah merambah berbagai sektor kehidupan, mulai dari industri kreatif hingga ruang publik. Transformasi ini turut mengubah cara produksi, distribusi, dan konsumsi informasi di masyarakat. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus tetap diimbangi dengan sensitivitas terhadap konteks sosial dan budaya lokal.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kekuatan nilai-nilai komunal yang masih sangat kental di masyarakat Asia Tenggara. Prof. Rachmah Ida menjelaskan bahwa pendekatan komunikasi berbasis harmoni, keluarga, dan kebersamaan terbukti lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional dengan audiens dibandingkan pendekatan individualistik.
Ia mencontohkan bagaimana sejumlah perusahaan teknologi dan e-commerce memanfaatkan AI untuk menghadirkan konten yang relevan secara lokal, seperti penggunaan bahasa daerah dan narasi berbasis budaya setempat, namun tetap dikemas dengan standar global. Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat koneksi antara teknologi dan identitas masyarakat.
Meski demikian, penggunaan AI dalam media digital juga menyimpan tantangan serius. Salah satu risiko utama adalah munculnya bias dan stereotip akibat keterbatasan data yang tidak sepenuhnya merepresentasikan keberagaman budaya. Prof. Rachmah Ida menilai bahwa tanpa pengawasan yang tepat, teknologi AI berpotensi menghasilkan representasi yang tidak akurat bahkan menyesatkan.
Ia juga mengacu pada temuan studi BBC Media Action yang menunjukkan bahwa sekitar 75 persen jurnalis di Indonesia telah memanfaatkan perangkat AI seperti ChatGPT dan Gemini dalam aktivitas jurnalistik sehari-hari. Fenomena ini mencerminkan bahwa AI telah menjadi bagian integral dalam ekosistem media modern.
Namun, adopsi tersebut tidak lepas dari dinamika persepsi. Sebagian jurnalis melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, sementara sebagian lainnya menganggapnya sebagai ancaman terhadap independensi dan kualitas jurnalistik.
Dalam konteks yang lebih luas, Prof. Rachmah Ida menilai bahwa AI juga telah berkembang menjadi instrumen baru dalam komunikasi politik. Konten yang dihasilkan oleh AI kini digunakan oleh masyarakat untuk mengekspresikan aspirasi, identitas, hingga kepentingan nasional di ruang digital.
Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya menjaga kedaulatan digital di tengah pesatnya arus globalisasi teknologi. Upaya ini, menurutnya, harus dibarengi dengan peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu memahami, menyaring, dan memanfaatkan informasi secara kritis.
“Integrasi antara teknologi dan nilai lokal menjadi kunci agar perkembangan AI tidak justru menjauhkan media dari realitas masyarakat,” ujar Prof. Rachmah Ida.
Diskursus mengenai AI di media digital ini menjadi semakin relevan seiring meningkatnya peran teknologi dalam membentuk opini publik. Tanpa pendekatan yang bijak, teknologi yang seharusnya menjadi alat pemberdayaan justru berpotensi menciptakan kesenjangan baru.
Dengan demikian, kolaborasi lintas sektor—antara akademisi, praktisi media, industri teknologi, dan pemerintah—menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pemanfaatan AI tetap sejalan dengan nilai-nilai sosial, budaya, dan etika yang berkembang di masyarakat.
Topik ini diproyeksikan akan terus menjadi perhatian utama dalam perkembangan media digital ke depan, terutama di kawasan Asia Tenggara yang tengah mengalami percepatan transformasi digital secara signifikan. (tas)

