Bencana yang melanda wilayah Pidie Jaya, Aceh, tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan aktivitas usaha kecil dan menengah (UKM) sebagai penggerak ekonomi lokal. Kerusakan aset, hilangnya stok barang, hingga terhentinya operasional membuat banyak pelaku usaha kehilangan sumber penghasilan utama.
Dalam program Pendampingan UKM Penyintas Bencana, akademisi dan organisasi nonpemerintah menekankan bahwa bantuan modal harus dibarengi dengan pendampingan yang terstruktur agar benar-benar produktif. Dosen Universitas Malikussaleh, Dr. Ibrahim Chalid, M.Si., menegaskan bahwa suntikan dana tanpa arahan berisiko tidak memberikan dampak jangka panjang.
“Pendampingan adalah kunci agar bantuan benar-benar produktif dan usaha bisa pulih lebih cepat,” ujarnya.
Menurut Chalid, sejumlah tantangan utama pascabencana antara lain penggunaan modal untuk kebutuhan konsumtif, minimnya perencanaan usaha, lemahnya pencatatan keuangan, serta belum stabilnya omzet. Banyak pelaku usaha juga belum memiliki strategi pemasaran ulang untuk menjangkau pelanggan yang sempat hilang akibat bencana.
Padahal, UKM memiliki peran vital dalam memulihkan ekonomi daerah. Karena itu, program pendampingan difokuskan pada penyusunan rencana pemulihan usaha, penguatan kapasitas manajemen, serta pemanfaatan bantuan modal secara tepat sasaran.
Program yang turut melibatkan akademisi dari Universitas Airlangga ini menerapkan prinsip transparansi dan partisipasi aktif pelaku usaha. Tahapan kegiatan meliputi asesmen dan pendataan, penyusunan rencana pemulihan, penyaluran modal, pendampingan teknis selama satu hingga tiga bulan, serta monitoring dan evaluasi berkala.
Chalid berharap bantuan yang diberikan dapat menjadi stimulus jangka panjang bagi kebangkitan ekonomi lokal. “Manfaatkan stimulus modal ini dengan baik dan berorientasi pada keberlanjutan,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Peduli Pembangunan Ekonomi Pesisir Aceh (YAPPERA), Dr. Mujiburrahman, S.Pd., M.Hum., menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menilai dukungan akademisi dapat memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam mengelola bantuan secara disiplin.
Menurutnya, keberhasilan usaha sangat bergantung pada konsistensi dan kedisiplinan dalam mengelola modal. Ia mengingatkan agar dana yang diterima tidak dialihkan ke kebutuhan di luar rencana usaha.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan NGO ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan UKM di Pidie Jaya, sekaligus membangun fondasi kewirausahaan yang lebih tangguh dalam menghadapi risiko bencana di masa mendatang. (tas)

