Arsy dan Mimpi Jadi Ilmuwan
PERISTIWA PROFIL

Arsy dan Mimpi Jadi Ilmuwan

Adalah Ibrahim Arsy, mahasiswa Departemen Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tahun ini akan mewakili ITS dalam ajang Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional 2020 nanti.

Berbagai sepak terjang pun telah dirasakannya dalam meraih gelar Mawapres 1 ITS. Seiring dengan bidang keilmuwannya, Arsy bercita-cita menjadi seorang ilmuwan yang menebar kebermanfaatan.

“Mau jadi apapun di masa depan, jiwa ilmuwan saya akan tetap ada,” ujar Arsy mengawali pembicaraan.

Baginya, menjadi Mawapres merupakan salah satu jalan untuk mengabdikan diri. Selain itu, menjadi Mawapres juga merupakan jalan untuk menggali dan mendalami bidang keilmiahan, karena semakin banyak pengalaman, ilmu, peluang, dan kesempatan yang bisa ia ambil.

Sejak dulu, mahasiswa angkatan 2017 ini mengaku bermimpi menjadi seorang ilmuwan. Terlebih ketertarikannya kepada fisika sudah bersemayam di hatinya sejak berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Ketertarikan itu makin menjadi tatkala ia bertemu dengan pelajaran listrik dan elektromagnetik. Dari situ, ia berpikir bahwa fisika memanglah sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Tidak sekadar aplikatif, ilmu fisika bisa lebih dari itu, misalnya mengungkap suatu teori,” bebernya bersemangat.

Melanjutkan minatnya, mahasiswa kelahiran 1999 ini pun aktif menggeluti dunia penelitian sejak semester pertama perkuliahan. Karya dan inovasinya sudah melanglang buana membawa harum nama ITS di Indonesia hingga tingkat dunia.

Inovasi yang pernah ia gagas mayoritas berada dalam lingkup futuristik yang memiliki target realisasi jauh di masa depan. “Contohnya pengembangan teknologi levitasi magnet dan medan listrik untuk kereta hingga alat charge handphone wireless yang tidak perlu menyentuh dasar charger-nya,” paparnya.

Lewat inovasi cerdasnya, tahun 2019 lalu Arsy berhasil mengantongi satu medali emas di Malaysia Technology Expo (MTE) dan tiga medali emas di International Innovation Fair 2019 dan Kaohsiung International Invention and Design Expo.

Berbicara soal ilmu murni, stigma bahwa sains itu berat dan membingungkan ditepis begitu saja oleh Arsy. Baginya, ilmu murni itulah yang mendasari segala ilmu terapan yang ada. “Dengan mendalaminya, akan lebih mudah untuk mengeksplor ilmu lainnya,” ujarnya.

Menjadi seseorang yang berprestasi dan getol dalam keilmiahan tak membuat Arsy menutup mata dengan kegiatan lain, salah satunya aktif berorganisasi.

Alumnus SMA Lazuardi GIS ini merupakan anggota Ristek BEM ITS dan Trainer keilmiahan ITS yang sangat mendukung dan memberinya motivasi menjadi seorang Mawapres. “Para Mawapres ITS 2019 itu juga menjadi raksasa inspirasi saya,” tutur mahasiswa asal Depok ini.

Semua pengalaman berorganisasinya itu memberikan dampak yang besar bagi Arsy. Ia mengaku suka bertukar pikiran dengan orang lain yang jauh lebih berilmu. Pun dari mereka, ia belajar beretika, bersosialisasi, hingga berpikir kritis. “Hal itu melatih dan menempa diri saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” jelasnya.

Ketika ditanya soal tips menjadi seseorang Mawapres sekaligus aktif berorganisasi, Arsy memegang kunci utama yaitu manajemen waktu yang baik. “Rencanakan kegiatan atau lomba dari jauh-jauh hari. Hindari sistem kebut semalam,” ujar mahasiswa yang juga menjadi asisten laboratorium Fisika Instrumentasi ini.

Di akhir wawancara, Arsy berpendapat bahwa semua orang pasti memiliki inovasi, inspirasi, dan porsinya masing-masing dalam berprestasi. Yang terpenting adalah terus menjaga semangat berinovasi, berprestasi, dan bermanfaat untuk orang lain.

“Semua orang bisa menjadi Mawapres, tetapi tidak semua orang ‘mau’ menjadi Mawapres. Maka teguhkan niat dan rencanakan jalan anda untuk menjadi Mawapres di jalan masing-masing,” pungkasnya. (ita)