Awan Penggerak Solusi Minim Internet
PERISTIWA TEKNOLOGI

Awan Penggerak Solusi Minim Internet

Awan Penggerak akan menyebar secara nasional sehingga bisa digunakan oleh satuan pendidikan yang berada di daerah khusus atau satuan pendidikan yang memiliki kendala jaringan internet.

Luas Indonesia yang begitu besar dan kontur geografis yang beragam membuat tugas para pendidik di daerah terpencil tidaklah mudah. Meski sudah ada teknologi informasi, kendala akses atau jaringan internet masih menjadi masalah di beberapa wilayah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah meluncurkan sejumlah platform dan aplikasi untuk sekolah. Survei dari Segara Research Institute pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa sebagian besar responden mengaku senang dengan adanya platform dan aplikasi yang diluncurkan Kemendikbudristek. Bahkan mereka mengaku terbantu dengan adanya platform dan aplikasi itu.

Namun, demikian, dalam survei yang dilakukan sekitar dua pekan itu, banyak kalangan tenaga pengajar, baik guru maupun dosen yang mengalami kendala teknis. Sebanyak 45 persen kepala sekolah mengaku mereka mengalami kendala pada koneksi internet. Sebanyak 46 persen tenaga pengajar dari wilayah Indonesia Timur dan daerah-daerah kepulauan juga mengalami masalah soal jaringan internet.

Survei dilakukan terhadap 3.725 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.521 responden merupakan kepala sekolah, 1.591 guru, 328 dosen dan 285 mitra kerja lain yang menjadi bagian dari ekosistem pendidikan.

Bisa Tanpa Internet
Akses layanan pendidikan yang belum merata di setiap satuan pendidikan di Indonesia, tentunya menghambat laju akses pembelajaran dan upaya peningkatan kompetensi bagi para guru yang bertugas di seluruh pelosok negeri. Untuk itu, Kemendikbudristek meluncurkan sistem Awan Penggerak. Kemendikbudristek mengembangkan Awan Penggerak yang dirancang untuk membantu guru di satuan pendidikan atau di daerah-daerah yang masih memiliki kendala jaringan internet.

Sistem Awan Penggerak kini mulai diujicobakan oleh berbagai sekolah di enam provinsi di Indonesia. Keenam provinsi tersebut adalah Papua Barat, Lampung, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Aceh. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menerangkan, Awan Penggerak memungkinkan pengguna (para guru) mengakses materi pembelajaran yang ada di dalam platform Merdeka Mengajar dan juga sumber-sumber lain secara luring.

“Dengan demikian juga bapak bisa mengakses materi pembelajaran yang berkualitas tanpa jaringan internet,” jelas Nadiem Makarim dalam rilis “Awan Penggerak: Gerakan Membangun Ekosistem Belajar Guru yang Saling Menguatkan” seperti dikutip dari kanal YouTube Ditjen GTK, Kamis (14/03).

Menteri Nadiem menambahkan, dengan adanya sistem Awan Penggerak, peran dinas pendidikan sangat penting untuk mensosialisasikan sistem Awan Penggerak, kepada sekolah dan guru-guru yang ada di wilayah masing masing. Para guru bisa menggunakan sistem ini sebagai alat bantu untuk mendukung peningkatan kompetensi dan kinerja serta membangun ekosistem belajar yang saling menguatkan.

Gagasan tentang Awan Penggerak itu merupakan inisiasi dari 11 UPT Kemendikbudristek yang berasal dari tiga Direktorat Jenderal Kemendikbudristek yaitu Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Ditjen PDM), serta Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Vokasi).

Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbudristek, Putra Asga Elevri mengatakan, 11 inisiator dimaksud adalah Balai Guru Penggerak (BGP) dan Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Lampung, BGP dan BPMP Sulawesi Utara, BGP dan BPMP Maluku Utara, BGP dan BPMP Maluku, BGP dan BPMP Papua Barat, BPMP Lampung, BPMP Sulawesi Utara, BPMP Maluku Utara, serta Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPP MPV) Bidang Mesin dan Teknik Industri.

Adapun proses diskusi perancangan dan pengembangan Awan Penggerak telah dimulai sejak Desember 2022. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa kali diskusi di Februari 2023. Lalu, disepakati Awan Penggerak sebagai gerakan peningkatan kompetensi PTK di daerah yang terkendala jaringan internet.

“Mei 2023 kami selenggarakan uji coba terbatas oleh BGP Papua Barat terhadap tiga model pengembangan Awan Penggerak. Uji coba Awan Penggerak ini telah dilakukan di enam provinsi. Selama proses uji coba dan pemanfaatan di provinsi tersebut, kami mendapatkan banyak cerita dampak baik dari para guru yang telah memanfaatkannya,” terang Putra Asga yang mendapat respons positif dari para guru yang merasakan manfaat Awan Penggerak.

Pada tahap lebih lanjut, Awan Penggerak akan menyebar secara nasional sehingga bisa digunakan oleh satuan pendidikan yang berada di daerah khusus atau satuan pendidikan yang memiliki kendala jaringan internet.

Daerah Khusus yang akan menjadi daerah sasaran Awan Penggerak merupakan daerah yang masuk ke dalam Kepmendikbudristek Nomor 160/P/2021 tentang Daerah Khusus Berdasarkan Kondisi Geografis. Sedangkan daerah yang terkendala jaringan internet merupakan satuan pendidikan di luar daerah khusus namun memiliki kecepatan internet kurang lebih 2 MBps berdasarkan Dapodik Desember 2023. (indonesia.go.id)