Bangkit Berbekal Kartu Prakerja
KOMUNITAS PERISTIWA

Bangkit Berbekal Kartu Prakerja

Di tengah kesulitan, pasti ada peluang baik. Begitulah pameo klasik yang sering didengar publik. Kondisi suram akibat pandemi Covid-19, terjangkit masalah kesehatan, dan terpuruk ekonominya akibat tidak bisa beraktivitas sosial, tidak membuat kendor semangat masyarakat.

Masih ada sebagian kalangan yang sigap mencari peluang sampai berbuah menjadi berkah. Program kartu prakerja menyodorkan peluang bangkit dari keterpurukan tersebut.

Ketika masih pandemi Covid-19 baru melanda negeri ini, Maylinda Rachma Sari dirumahkan dari pekerjaan sebagai petugas fotokopi di sebuah perusahaan. Saat mengetahui adanya program kartu prakerja dari pemerintah, perempuan 26 tahun asal Sidoarjo itu segera mendaftar dan berhasil diterima di gelombang 9 tahun 2020.

Dari ilmu bisnis yang dia dapatkan dalam pelatihan itu, Maylinda memutuskan untuk berwirausaha. Dia melihat usaha cetak foto dan fotokopi sebagai peluang, karena lokasi tempat tinggalnya dekat dengan sekolah dan kelurahan.

“Dana insentif yang saya terima digunakan sebagai modal usaha untuk mencicil kredit pembelian berbagai peralatan seperti laptop, alat laminating, dan printer. Saat ini usaha saya sudah berjalan selama lebih dari satu tahun,” kata Maylinda.

Lain lagi cerita Miftakhul Huda, penerima kartu prakerja gelombang 8. Awalnya Huda bekerja sebagai satuan pengamanan di sebuah pabrik. Tapi, dia diberhentikan karena pandemi Covid-19. Saat tengah galau karena tidak memiliki pekerjaan, Miftakhul mendapatkan informasi tentang adanya program kartu prakerja dari media sosial.

Setelah mendapatkan insentif, dana tersebut dia pergunakan untuk memulai modal usaha berjualan pakaian. Saat ini, usahanya sudah berjalan selama satu tahun lebih dan dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pelatihan komputer yang diikuti berguna dalam pembukuan dan merapikan data penjualannya.

Ada juga testimoni menarik dari Pamekasan, Madura. Nuriyah menghabiskan saldo bantuan pelatihan sebesar Rp1 juta hingga habis tak tersisa. Dengan pelatihan ‘Sukses Kembangkan UMKM hingga Kebanjiran Order’, perempuan 27 tahun ini makin percaya diri dalam mengembangkan wirausaha dengan memproduksi dan berjualan makanan ringan berupa rengginang.

Kisah-kisah sukses sebagai penerima manfaat program kartu prakerja itu tersampaikan ketika berdialog dengan Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan perwakilan Alumni Program Kartu Prakerja di Surabaya, Kamis (13/01).

Maylinda, Huda, dan Nuriyah hanya sedikit contoh dari 1.070.706 penerima program kartu prakerja di Jawa Timur, selama dua tahun pertama pelaksanaan program itu. Dari 22 gelombang pendaftaran pada 2020-2021, Jawa Timur menjadi daerah penerima program kartu prakerja terbesar kedua di Indonesia.

Sementara itu, Kota Surabaya adalah kota dengan jumlah penerima tertinggi di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penerima sebanyak 388.707 orang. Para penerima program kartu prakerja sebesar 63 persen memiliki latar belakang pendidikan lulusan SMA/SMK dan sisanya lulusan SD, SMP, diploma, dan sarjana.

“Kami mendorong alumni program kartu prakerja untuk menekuni dunia wirausaha. Kalau mereka sudah berani memulai usaha, kami bantu pembiayaan UMKM dengan pola kredit usaha rakyat (KUR), baik yang super mikro, mikro, maupun usaha kecil,” kata Airlangga Hartarto.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator bidang Perekonomian telah mengumumkan bahwa plafon penyaluran KUR untuk 2022 ditingkatkan menjadi Rp373,17 triliun, dengan suku bunga tetap sebesar 6 persen.

Kepada alumni kartu prakerja, Airlangga menekankan tips menjadi pengusaha sukses harus ulet dan jangan takut gagal. “Tak ada orang yang berusaha langsung sukses. Proses itu merupakan bagian dari keberhasilan,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari menyatakan bahwa insentif yang telah dikucurkan kepada peserta dari Jawa Timur sebesar Rp2,6 triliun diyakini dapat membantu ekonomi rumah tangga penerima manfaat, memperkuat ketahanan pangan, dan menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian daerah.

“Menariknya lagi, sebanyak 76 persen penerima dari Jawa Timur menggunakan insentif untuk modal usaha, seperti Maylinda, Huda, dan Nuriyah,” kata Denni.

Data Manajemen Program Kartu Prakerja mencatat, pelatihan penjualan dan pemasaran (digital marketing), seperti bisnis online shop, menjadi youtuber profesional, dan strategi marketing bisnis menjadi pelatihan yang paling digemari peserta program kartu prakerja di Jawa Timur.

“Sebanyak 98 persen penerima kartu prakerja di Jawa Timur menganggap program ini meningkatkan kompetensi dan pengetahuan, keterampilan, serta soft-skill. Selain itu, 96 persen peserta menganggap program kartu prakerja mendorong kewirausahaan,” urai doktor ekonomi lulusan University of Colorado at Boulder, Amerika Serikat ini.

Denni menambahkan hasil survei evaluasi itu juga menyebutkan, 77,6 persen peserta mengaku program kartu prakerja tepat sasaran dan akan melampirkan sertifikat pelatihan kartu prakerja saat melamar kerja.

Pada kesempatan tersebut, pemerintah juga memberikan KUR dari Bank BNI kepada para alumni kartu prakerja yang terpilih dan juga bantuan berupa alat-alat untuk pendukung usaha para alumni kartu prakerja di Jawa Timur. Sebagai bukti konkret dukungan berkelanjutan dari penerima kartu prakerja agar mereka bisa menjadi wirausahawan sukses. (indonesia.go.id)