Keberhasilan Kota Surabaya dalam mengendalikan banjir di sejumlah titik strategis mendapat perhatian pemerintah pusat. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI Bima Arya Sugiarto meninjau langsung Rumah Pompa Darmo Kali bersama Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kamis (22/1/2026).
Wali Kota Eri Cahyadi menjelaskan bahwa ketertarikan Wamendagri muncul setelah melihat perubahan signifikan di kawasan yang sebelumnya dikenal rawan genangan, seperti Jalan Ahmad Yani depan RS Islam, Monumen Bambu Runcing, Jalan Kayoon, depan Gedung Grahadi, hingga sekitar Patung Joko Dolog.
“Beliau heran, hujan deras berkali-kali tetapi pusat kota tidak tergenang. Itu hasil dari sistem pompa dan drainase yang dibangun dan dijalankan secara terintegrasi,” ujar Eri.
Menurut Eri, upaya pengendalian banjir di Surabaya terus berjalan. Beberapa wilayah seperti Ketintang, Gayungan, dan Margorejo masih dalam tahap penyempurnaan. Bahkan kawasan Dukuh Kupang yang selama lebih dari 50 tahun kerap terendam banjir kini telah terbebas dari genangan.
“Dulu air di Dukuh Kupang bisa sampai leher, sekarang tidak banjir sama sekali. Ini yang membuat Pak Wamendagri tertarik untuk melihat langsung dan berdialog dengan warga,” ungkapnya.
Meski demikian, Eri mengakui masih terdapat titik-titik yang memerlukan penanganan lanjutan, seperti kawasan Simo dan sekitar SMA Negeri 14 Surabaya. Penanganan di wilayah tersebut mulai dilakukan pada 2026 dengan pendekatan yang hati-hati agar tidak menimbulkan dampak ke wilayah lain.
“Pengendalian banjir adalah proses jangka panjang. Jika tidak dibangun sistem pompa dan long storage, persoalan banjir tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Pertemuan tersebut menjadi sinyal positif bahwa sistem pengendalian banjir Surabaya berpeluang dikembangkan dan diadaptasi di daerah lain sesuai kondisi geografis dan karakter wilayah masing-masing. (tas)
