Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, resmi membuka Batik Bordir & Aksesoris Fair (BBA Fair) 2026 yang digelar di Exhibition Hall Grand City Mall Surabaya, Rabu (6/5/2026).
Penyelenggaraan BBA Fair tahun ini menjadi agenda ke-21 yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Ajang tersebut tidak hanya menjadi sarana promosi produk kriya daerah, tetapi juga diarahkan sebagai platform penguatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Arumi menegaskan bahwa penguatan kualitas menjadi tahap mendasar sebelum pelaku UMKM memperluas skala usaha atau melakukan scale up. Menurutnya, peningkatan kualitas produk harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari desain, standar produksi, hingga strategi pemasaran.
“Batik Bordir & Aksesoris Fair ini bukan sekadar pameran, tetapi bagian dari upaya nyata untuk mendorong UMKM naik kelas,” ujar Arumi.
Ia menjelaskan, konsep naik kelas bagi UMKM tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah produksi atau penjualan, melainkan juga mencakup penguatan kualitas produk dan profesionalitas usaha.
“Naik kelas berarti kualitas produknya meningkat, standarnya semakin baik, desainnya lebih kuat, dan cara memasarkannya juga lebih profesional,” katanya.
Menurut Arumi, fondasi kualitas yang kuat menjadi faktor penting sebelum UMKM memperluas pasar. Tanpa kesiapan tersebut, upaya scale up dinilai akan sulit berkembang secara optimal.
Karena itu, Dekranasda Jatim terus mendorong kesiapan UMKM dari berbagai aspek, mulai dari penguatan produk, branding, hingga tata kelola usaha.
“Kalau fondasi kualitasnya belum kuat, akan sulit untuk scale up. Maka yang dilakukan adalah memastikan UMKM benar-benar siap, baik dari sisi produk, branding, maupun manajemen usahanya,” ucapnya.
Setelah tahap penguatan kualitas terpenuhi, langkah berikutnya adalah memperluas akses pasar dan meningkatkan kapasitas usaha. Dalam hal ini, keberadaan BBA Fair dinilai memiliki peran strategis karena mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen maupun calon pembeli potensial.
Menurut Arumi, pameran seperti BBA Fair juga membuka peluang jejaring bisnis yang lebih luas bagi para perajin dan pelaku industri kreatif di Jawa Timur.
“Setelah naik kelas, baru didorong untuk scale up. Event seperti BBA Fair menjadi penting karena membuka akses pasar, mempertemukan produk dengan buyer, serta memperluas jejaring usaha,” katanya.
Dekranasda Jatim juga mendorong transformasi produk kriya dari sekadar komoditas menjadi identitas budaya yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Strategi tersebut dilakukan dengan memperkuat unsur cerita, sejarah, dan karakter lokal yang melekat pada setiap produk.
Menurut Arumi, kekuatan batik dan produk kriya Jawa Timur tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Kita mendorong transformasi dari komoditas menjadi identitas. Jadi yang dijual bukan hanya produknya, tetapi juga cerita dan sejarah di balik produk tersebut. Di situlah kekuatan branding batik Jawa Timur,” ujarnya.
Selain penguatan identitas produk, Dekranasda Jatim juga mendorong pelaku UMKM untuk memperluas pemasaran melalui ekosistem digital. Pemanfaatan platform omnichannel dinilai penting agar jangkauan pasar produk kriya semakin luas dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
“Perajin harus masuk ke ekosistem digital dan memanfaatkan platform omnichannel agar pasar yang dijangkau semakin luas,” kata Arumi.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pengembangan UMKM memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah mengingat jumlah pelaku usaha di Jawa Timur sangat dominan.
Berdasarkan data yang disampaikan, sektor UMKM di Jawa Timur mencapai 4,58 juta unit usaha atau sekitar 99,72 persen dari total struktur usaha di provinsi tersebut. Sementara kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur pada 2024 mencapai 60,08 persen.
Dengan jumlah tersebut, peningkatan kapasitas dan perluasan usaha UMKM diyakini dapat memberikan dampak signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah.
“Dengan jumlah sebesar itu, ketika UMKM didorong untuk scale up, dampaknya akan signifikan terhadap peningkatan ekonomi daerah,” tuturnya.
Arumi juga menilai posisi strategis Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara menjadi peluang besar dalam memperluas akses pasar produk UMKM. Posisi geografis tersebut dinilai mendukung Jawa Timur sebagai penghubung kawasan Indonesia barat dan timur.
Ia mengatakan, arah pengembangan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang mendorong Jawa Timur menjadi hub perdagangan dan distribusi nasional.
“Sebagaimana arahan Ibu Gubernur Khofifah, Jawa Timur didorong menjadi gerbang baru Nusantara sekaligus hub Indonesia barat dan timur. Dengan posisi tersebut, akses pasar menjadi lebih terbuka sehingga UMKM memiliki peluang lebih besar untuk scale up dan meningkatkan pendapatan,” katanya. (tas)

