Cara Eri Cegah Radikalisme – Intoleransi
KOMUNITAS PERISTIWA

Cara Eri Cegah Radikalisme – Intoleransi

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meresmikan Balai RW 5 Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng sebagai Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Sinau dan Mengaji untuk anak-anak, Selasa (20/09). Dalam peresmian itu, juga dihadiri oleh perwakilan dari DPRD Kota Surabaya, Sekretaris Daerah (Sekda), jajaran Asisten dan Kepala PD.

Eri Cahyadi menjelaskan, Puspaga, Sinau dan Mengaji untuk keluarga dan anak itu bukan hanya ada di Balai RW 5, Kelurahan Genteng, Kecamatan Genteng saja. Akan tetapi ada juga di 19 balai RW lain yang tersebar di 15 Kelurahan, 12 Kecamatan se-Surabaya.

“Jadi di sini itu ada tempat untuk semua agama lengkap fasilitas serta tenaga pengajarnya. Begitu pula dengan belajarnya, ada pelajaran matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan sebagainya,” kata Eri.

Eri menjelaskan, sejatinya Balai RW itu adalah tempatnya bersosialisasi dan komunikasi warga. Biasanya, yang kumpul di Balai RW itu bapak – bapak untuk rapat dan membicarakan berbagai hal untuk kampungnya. Berangkat dari fungsi Balai RW itu, ia berinisiatif menjadikan tempat tersebut berkumpulnya anak – anak.

“Ketika anak – anak itu kumpul, otomatis orang tuanya ikut serta keluar. Sehingga apa? Surabaya yang penuh dengan toleransi, tolong menolong yang tinggi itu bisa diwujudkan kembali. Sehingga kampung itu terjaga dan terhindar dari radikalisme bahkan intoleransi,” sebut Eri.

Selain itu, Eri melanjutkan, dengan adanya Puspaga, Sinau dan Ngaji bareng di Balai RW, tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak akan berkurang di Kota Surabaya. Dengan ada kebersamaan warga, kampung di Kota Pahlawan akan semakin aman serta nyaman, terutama bagi perempuan dan anak.

“Nanti di akhir Desember, seluruh Balai RW di Surabaya sudah harus berfungsi untuk kegiatan ini dan harus layak dan memiliki 2 lantai, karena ini ciri khasnya Budaya Arek Suroboyo,” ucap Eri.

Sementara itu, tenaga pengajarnya akan didatangkan dari berbagai pemuka agama dan perguruan tinggi di Surabaya. Kolaborasi dengan pemuka agama dan perguruan tinggi itu adalah wujud dari kebersamaan dan gotong royong yang diinginkan Eri dalam membangun sebuah kota.

“Misal, ada mahasiswa yang pintar nanti ngajar di balai RW, ngajari arek cilik – cilik (mengajari anak – anak), kemudian ada hafidz Al-Quran, dia bisa menyampaikan ilmu agamanya di sini. Ini lah yang namanya gerak bersama,” pungkasnya. (ita)