Lulusan bidang humaniora kerap dianggap memiliki ruang gerak karier yang sempit. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi Jazi Jannati, alumnus Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini meniti karier di industri pendidikan internasional.
Saat ini, Jazi menjabat sebagai Regional Marketing Manager UK & Europe Specialist (Indonesia dan Filipina) di YES Education Group. Perannya mencakup pendampingan mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri serta menjalin kemitraan strategis dengan universitas internasional.
Jazi menuturkan bahwa pilihannya masuk Sastra Indonesia didasarkan pada ketertarikan terhadap budaya dan sastra, tanpa bayangan karier global di masa depan. Namun, justru dari latar belakang tersebut ia memperoleh perspektif yang kuat dalam memahami konteks budaya, yang kini menjadi keunggulan kompetitifnya.
Menurutnya, pembelajaran kajian budaya selama kuliah sangat relevan dalam dunia profesional. Pendekatan berbasis budaya dinilai penting untuk membangun strategi pemasaran pendidikan yang tepat sasaran, khususnya di negara multikultural seperti Indonesia.
Perjalanan Jazi ke industri pendidikan global dimulai dari keinginannya melanjutkan studi ke Inggris. Proses mempersiapkan diri, termasuk mendalami bahasa Inggris dan mengikuti persiapan IELTS, membawanya mengenal lebih dekat ekosistem pendidikan internasional. Dari sana, peluang karier mulai terbuka hingga ia dipercaya menangani pasar Eropa dan Inggris.
Meski demikian, perjalanan tersebut tidak lepas dari tantangan. Jazi mengakui sempat merasa kurang percaya diri karena harus bersaing dengan rekan kerja lulusan luar negeri. Namun, pengalaman organisasi semasa kuliah membantunya membangun kepercayaan diri dan kemampuan manajerial.
Kini, selain menangani pemasaran pendidikan, Jazi juga terlibat dalam pengembangan program kolaborasi antara universitas di Indonesia dan luar negeri, termasuk short course, riset dosen, dan program beasiswa.
Bagi Jazi, kunci kesuksesan adalah konsistensi dan keberanian mengikuti minat. Ia menegaskan bahwa ilmu humaniora tidak hanya relevan, tetapi juga dibutuhkan di tingkat global. “Jurusan apa pun, selama ditekuni dengan sungguh-sungguh, pasti akan menemukan jalannya,” pungkasnya. (tas)
