Siang itu, Zainal seorang wisatawan asal Malaysia tampak sibuk memilih kopi di sebuah kafe kecil di kawasan Ubud, Bali. Setelah menyeruput tegukan pertama, ia merogoh ponselnya.
Tanpa menukar uang Ringgit ke Rupiah, ia cukup memindai kode QR di meja kasir menggunakan aplikasi pembayaran digital dari negaranya. Dalam hitungan detik, transaksi selesai.“Praktis sekali. Tidak perlu repot menukar uang di bandara,” ujarnya sambil tersenyum puas.
Pemandangan semacam ini kian akrab di sejumlah destinasi wisata Indonesia. Semua berkat implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) antarnegara, yang digagas Bank Indonesia (BI) bersama otoritas moneter di kawasan.
QRIS pertama kali diluncurkan di dalam negeri pada 2019. Tujuannya sederhana, menyatukan berbagai sistem pembayaran berbasis QR agar konsumen tidak bingung dengan beragam standar.
Kini, hanya dengan satu QR code, masyarakat bisa membayar menggunakan berbagai aplikasi dompet digital atau mobile banking.
Kesuksesan domestik inilah yang mendorong BI melangkah lebih jauh: memperluas kerja sama QRIS ke lintas negara. Hingga 2025, Indonesia sudah bekerja sama dengan Thailand, Malaysia, dan Singapura. Filipina, Jepang dan beberapa negara lain sedang dalam proses. Integrasi pembayaran ini menjadi tonggak penting konektivitas keuangan di ASEAN
Bagi pelaku usaha kecil, implementasi QRIS antarnegara adalah angin segar. Selama ini, mereka kerap kehilangan peluang karena wisatawan asing lebih suka transaksi digital daripada tunai.
Siti Aminah (37), pemilik toko batik di Yogyakarta, merasakan langsung manfaatnya. “Kalau turis bayar dengan QRIS dari aplikasi negara mereka, otomatis masuk ke rekening saya dalam rupiah. Tidak ada lagi ribet kembalian atau takut uang palsu,” katanya.
Selain mempermudah, transaksi lintas negara dengan QRIS juga lebih murah dibanding pembayaran menggunakan kartu internasional yang dikenakan biaya tambahan.
Pariwisata menjadi sektor yang paling diuntungkan. Sebelum adanya QRIS antarnegara, wisatawan sering kali terkendala penukaran mata uang, biaya administrasi bank, hingga risiko membawa uang tunai dalam jumlah besar. Kini, semua bisa dilakukan secara digital, aman, dan efisien.
Data Bank Indonesia menunjukkan, sejak uji coba pertama QRIS antarnegara dengan Thailand pada 2022, volume transaksi QRIS lintas negara terus meningkat, terutama di kawasan wisata populer. UMKM di Bali, Yogyakarta, hingga Batam menjadi penerima manfaat utama.
Implementasi QRIS antarnegara sejatinya bukan hanya soal pembayaran. Ia adalah bagian dari strategi besar integrasi ekonomi kawasan. Melalui ASEAN Payment Connectivity, negara-negara di Asia Tenggara berkomitmen membangun ekosistem pembayaran digital yang saling terhubung.
Bagi Indonesia, langkah ini bukan hanya mendukung target 45 juta pengguna QRIS domestik, tetapi juga memperkuat posisi dalam rantai ekonomi regional. QRIS antarnegara adalah fondasi menuju transaksi lintas batas yang lebih luas, termasuk remitansi tenaga kerja migran dan e-commerce.
Hingga Juni 2025, implementasi QRIS antarnegara telah menunjukkan hasil yang membanggakan. Kerja sama QRIS antarnegara dengan Thailand tercatat mencapai 994.890 transaksi dengan nominal sebesar Rp437,54 miliar sejak diluncurkan Agustus 2022.
Volume transaksi QRIS Antarnegara Indonesia-Malaysia mencapai 4,31 juta transaksi dengan nominal sebesar Rp1,15 triliun sejak diluncurkan Mei 2023. QRIS Antarnegara dengan Singapura yang diluncurkan pada tanggal 17 November 2023 pun telah mencatatkan 238.216 transaksi dengan nominal sebesar Rp77,06 miliar.
Keberhasilan peluncuran QRIS Antarnegara Indonesia-Jepang merupakan hasil sinergi lintas otoritas antara Bank Indonesia dengan ASPI (termasuk penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran yang menjadi anggota ASPI), Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) Jepang, Payment Japan Association (PJA), Netstars, dan lembaga keuangan yang berpartisipasi.
BI berkomitmen untuk terus bersinergi dengan industri sistem pembayaran dan seluruh masyarakat dalam rangka memperluas akseptasi QRIS dengan didukung pengembangan inovasi fitur QRIS secara berkelanjutan dan perluasan kerja sama baik di dalam negeri maupun lintas negara.
Di tengah kompetisi global dan geliat ekonomi digital, konektivitas pembayaran lintas negara menjadi kebutuhan mendesak. QRIS antarnegara adalah salah satu jawabannya.
Meski manfaatnya nyata, implementasi QRIS antarnegara tidak tanpa kendala. Perbedaan regulasi antarnegara, kesiapan infrastruktur, hingga perlindungan konsumen menjadi isu yang terus dibenahi.
Selain itu, literasi digital juga masih menjadi pekerjaan rumah. Banyak pelaku UMKM di daerah yang belum familiar dengan mekanisme transaksi lintas negara.
Dari kafe di Bali hingga pasar tradisional di Yogyakarta, dari wisatawan Malaysia hingga pekerja migran Indonesia di Malaysia, satu hal yang sama: transaksi semakin mudah, cepat, dan inklusif.
Di balik kode QR sederhana, tersimpan potensi besar yakni memperkuat daya saing UMKM, memperlancar arus wisata, hingga mendekatkan cita-cita ASEAN sebagai kawasan ekonomi digital yang terintegrasi. (ist)

