Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya terus mendorong tumbuhnya inovasi ramah lingkungan di kalangan pelajar. Salah satu contoh nyata datang dari Raihan Jouzu Syamsudin, siswa SMP Negeri 57 Surabaya, yang berhasil mengolah limbah kulit bawang putih menjadi produk bernilai ekonomi.
Inovasi tersebut telah dijalankan sejak Februari 2024 dan bermula dari partisipasi Raihan dalam ajang Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup tingkat SMP yang diselenggarakan DLH Kota Surabaya. Berkat inovasinya, Raihan berhasil meraih predikat Pangeran II Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024.
Kepala Dispendik Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, menilai capaian tersebut mencerminkan keberhasilan pembinaan karakter kreatif dan solutif di lingkungan sekolah.
“Kami ingin anak-anak terbiasa berpikir kritis dan solutif sejak dini. Inovasi Raihan menunjukkan bahwa pelajar Surabaya mampu berkontribusi nyata bagi lingkungan,” ujarnya.
Febrina menambahkan, Dispendik secara konsisten membuka ruang pengembangan bakat melalui lomba karya ilmiah, penelitian, serta kolaborasi lintas sektor. Salah satunya dengan menggandeng Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya agar inovasi pelajar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengolahan limbah organik selama ini kerap berhenti pada kompos. Namun, Raihan mampu melihat peluang lanjutan dengan mengembangkan produk yang memiliki nilai ekonomi dan potensi wirausaha.
Raihan mengungkapkan bahwa inovasinya berawal dari ketertarikan mengolah limbah kulit bawang putih yang melimpah dan sering terbuang. Hingga kini, ia telah mengumpulkan sekitar 3,12 ton kulit bawang putih dari berbagai sumber.
Produk pertama yang dikembangkan adalah tinta spidol ramah lingkungan berbahan dasar black carbon hasil pembakaran tertutup kulit bawang putih. Proses tersebut meliputi pengeringan, penghalusan, pembakaran tertutup, penyaringan, hingga pencampuran larutan tertentu.
Selain itu, kulit bawang putih yang lembap dimanfaatkan untuk pembuatan eco enzyme, yang kemudian dikembangkan menjadi sabun cair ramah lingkungan tanpa bahan pembusa berlebihan yang berpotensi mencemari perairan.
Pengembangan inovasi tersebut tidak lepas dari dukungan guru pembina, fasilitas laboratorium IPA sekolah, mitra kerja sama, kampung binaan, serta dukungan orang tua dalam pengumpulan bahan, produksi, hingga pemasaran.
Produk-produk Raihan telah dipasarkan melalui pameran dan kegiatan lingkungan bersama Tunas Hijau Indonesia, serta dijual kepada masyarakat sekitar dan melalui toko daring. Respons masyarakat dinilai positif, terutama terhadap eco enzyme dan sabun cair.
Hasil penjualan dimanfaatkan kembali untuk pengembangan proyek, mulai dari pembelian bahan baku, peralatan, hingga promosi. Selain itu, Raihan juga memperoleh tambahan uang saku dari usahanya.
Dispendik Surabaya berharap inovasi Raihan dapat menjadi inspirasi bagi pelajar lain untuk peduli lingkungan sekaligus mengembangkan potensi diri. Ke depan, pendampingan riset dan inovasi akan terus diperkuat agar lahir lebih banyak inovator muda dari Surabaya. (tas)
