Memulai kembali usaha setelah terdampak bencana membutuhkan strategi yang matang dan pendekatan realistis. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Achsania H., S.E., M.Si., menegaskan bahwa perencanaan kelayakan bisnis menjadi langkah awal yang krusial sebelum usaha dijalankan kembali.
Menurut Achsania, keterbatasan modal, turunnya daya beli masyarakat, serta ketidakpastian pasar menuntut pelaku usaha untuk mengambil keputusan berbasis perhitungan. “Jangan pernah berpikir bisnis itu langsung naik. Ada siklus mulai dari tumbuh, puncak, turun, hingga titik terendah. Yang terpenting adalah bagaimana kita mampu bertahan,” ujarnya saat mendampingi pelaku usaha di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, Minggu (22/2).
Ia mengingatkan agar pelaku usaha memulai dari pasar terdekat dan tidak langsung membidik skala besar. Langkah awal yang realistis, seperti melayani kebutuhan lingkungan sekitar rumah, dinilai lebih aman dalam kondisi pemulihan pasca-bencana. Modal yang tersedia harus diputar secara efektif untuk menghasilkan arus kas cepat, bukan dianggap sebagai dana hibah tanpa perhitungan.
Dalam menyusun kelayakan usaha, Achsania menjelaskan sejumlah tahapan penting, dimulai dari identifikasi kebutuhan masyarakat terkini. Produk yang ditawarkan harus relevan, seperti sembako, air minum isi ulang, warung makan sederhana, jasa laundry, hingga transportasi lokal. Setelah itu, pelaku usaha perlu melakukan analisis pasar, operasional dan pasokan, sumber daya manusia, serta strategi pemasaran.
Proyeksi keuangan enam bulan pertama menjadi fokus utama karena periode tersebut merupakan fase kritis bagi usaha mikro. Perhitungan Break Even Point (BEP) dan payback period juga diperlukan untuk mengukur titik impas dan waktu pengembalian modal.
Dalam menghitung potensi pasar, pelaku usaha dikenalkan pada konsep TAM (Total Addressable Market), SAM (Serviceable Available Market), dan SOM (Serviceable Obtainable Market). Namun, dalam situasi pasca-bencana, perhitungan harus disesuaikan dengan kondisi riil daya beli masyarakat. Target produksi pun disarankan bertahap, dimulai dari 50 persen kapasitas ideal pada bulan pertama.
Selain itu, manajemen risiko menjadi aspek penting. Risiko penurunan penjualan, kenaikan harga bahan baku, hingga gangguan distribusi harus diantisipasi melalui strategi mitigasi, seperti memiliki lebih dari satu pemasok, menjaga stok minimal, dan tidak mengambil keuntungan pada dua bulan awal.
Dengan pendekatan terukur dan bertahap, Achsania optimistis usaha mikro tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan dalam jangka panjang. (tas)

