Ahli Biostatistika Epidemiologi dari Universitas Airlangga, Dr. Windhu Purnomo dr MS, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul temuan virus Nipah pada kelelawar di sejumlah wilayah Indonesia.
Temuan tersebut berdasarkan surveilans nasional 2023–2024 oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional yang mendeteksi RNA virus Nipah pada empat dari 305 sampel kelelawar buah. Meski demikian, hingga kini belum ada laporan kasus infeksi pada manusia.
“Belum ada kasus manusia di Indonesia. Jadi masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada,” kata Windhu, Jumat (13/2/2026).
Virus Nipah dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi, yakni 45 hingga 80 persen. Gejalanya mirip flu pada tahap awal, namun dapat berkembang menjadi radang otak atau ensefalitis yang berisiko fatal. Hingga saat ini, belum tersedia vaksin spesifik untuk virus tersebut.
Windhu menyarankan masyarakat menerapkan PHBS, menjaga daya tahan tubuh, serta menghindari konsumsi buah yang telah tergigit kelelawar. Ia juga mendorong fasilitas kesehatan meningkatkan deteksi dini terhadap kasus demam berat disertai gangguan saraf.
Menurutnya, penguatan kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam mencegah potensi wabah. Perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat perlu bersinergi dalam riset, edukasi, dan komunikasi risiko.
“Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan ketika kasus sudah terjadi,” ujarnya.
Dengan kewaspadaan kolektif dan sistem surveilans yang kuat, potensi ancaman virus Nipah diharapkan dapat dikendalikan sejak dini. (tas)

