Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menambah jajaran profesor melalui pengukuhan empat guru besar baru yang berlangsung di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Kampus MERR-C UNAIR, Rabu (13/5/2026). Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam memperkuat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus mendorong kontribusi akademik terhadap pembangunan nasional.
Empat akademisi perempuan yang resmi dikukuhkan sebagai guru besar berasal dari disiplin ilmu yang berbeda. Mereka adalah Prof Dr apt Idha Kusumawati SSi MSi dari Fakultas Farmasi, Prof Dr dr Dwi Murtiastutik SpDVE Subsp Ven FINSDV FAADV dari Fakultas Kedokteran, Prof Dr Lilik Sugiharti SE MSi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Prof Dr Mahmudah Ir MKes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Rektor UNAIR, Prof Dr Muhammad Madyan SE MSi MFin, mengatakan pengukuhan guru besar bukan sekadar pencapaian akademik individu, tetapi juga bentuk penguatan kapasitas institusi dalam menjawab tantangan pembangunan yang semakin dinamis. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di tengah perubahan global yang berlangsung cepat.
“Perkembangan zaman yang semakin kompleks menuntut perguruan tinggi untuk terus menghadirkan pemikiran dan solusi yang relevan bagi masyarakat. Karena itu, inovasi dan penguatan riset menjadi hal yang sangat penting,” ujar Prof Madyan.
Ia menjelaskan bahwa berbagai gagasan yang disampaikan dalam orasi ilmiah para guru besar menunjukkan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Setiap bidang ilmu dinilai memiliki kontribusi strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Dalam bidang kesehatan, misalnya, inovasi terapi berbasis bahan alam dan pengembangan konsep Precision Public Health menjadi salah satu fokus yang dianggap relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Sementara itu, di bidang ekonomi dan sosial, penguatan kualitas sumber daya manusia serta optimalisasi bonus demografi menjadi tantangan penting yang perlu dijawab melalui riset dan kebijakan berbasis data.
“Ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti hanya sebagai kajian akademik di ruang kelas atau laboratorium. Hasil penelitian harus dapat diterapkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Prof Madyan menilai kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci dalam mempercepat transformasi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Ia menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mendukung hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Menurutnya, model kolaborasi seperti pentahelix menjadi pendekatan yang semakin relevan untuk memperkuat inovasi dan daya saing nasional. Dengan kolaborasi tersebut, hasil penelitian di perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berhenti dalam publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.
Selain itu, Prof Madyan juga mengingatkan bahwa jabatan guru besar membawa tanggung jawab besar dalam pengembangan tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Guru besar dinilai memiliki posisi strategis sebagai penggerak lahirnya inovasi dan pengembangan keilmuan di bidang masing-masing.
“Guru besar memiliki tanggung jawab moral dan akademik untuk terus menjaga kualitas keilmuan, membangun integritas akademik, serta melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” tuturnya.
Ia berharap kehadiran empat guru besar baru tersebut dapat memperkuat budaya akademik di lingkungan UNAIR sekaligus menjadi inspirasi bagi sivitas akademika lainnya untuk terus mengembangkan kompetensi dan kontribusi keilmuan.
Pengukuhan guru besar ini juga dinilai menjadi bagian dari komitmen UNAIR dalam memperkuat kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Dengan bertambahnya jumlah profesor dari berbagai bidang ilmu, UNAIR berharap dapat terus meningkatkan kapasitas riset, inovasi, dan kolaborasi internasional di masa mendatang.
“Keberadaan guru besar harus mampu menjadi motor penggerak lahirnya pemikiran baru yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan begitu, perguruan tinggi dapat terus hadir sebagai institusi yang memberikan solusi bagi berbagai tantangan masyarakat,” pungkas Prof Madyan. (ita)

