Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga melepas ratusan mahasiswa untuk terjun langsung melakukan pemeriksaan kesehatan ternak ruminansia menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Program Merdeka Belajar Kampus Berdampak (MBKB) tersebut difokuskan pada pemeriksaan ante mortem dan post mortem guna memastikan hewan kurban dan daging yang beredar di masyarakat dalam kondisi sehat dan layak konsumsi.
Kegiatan pelepasan berlangsung di halaman Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR, Surabaya, Selasa (26/5/2026). Sebanyak 330 mahasiswa diterjunkan ke tujuh wilayah di Jawa Timur, meliputi Gresik, Surabaya, Lumajang, Lamongan, Bojonegoro, Sidoarjo, dan Kediri.
Program MBKB dilaksanakan selama dua hari dengan fokus pengawasan kesehatan ternak ruminansia pada proses pemeriksaan sebelum penyembelihan (ante mortem) dan setelah penyembelihan (post mortem). Kegiatan tersebut melibatkan 231 mahasiswa strata satu (S1), sekitar 40 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH), 15 mahasiswa S2 sebagai supervisor, tiga mahasiswa S3, serta dosen pembimbing lapangan dari berbagai program studi.
Dosen FKH UNAIR, Rury Mega Wahyuni menjelaskan, program tersebut menjadi bagian implementasi MBKB yang tidak hanya menitikberatkan pada pembelajaran akademik, tetapi juga penguatan keterampilan lapangan mahasiswa dalam pengawasan kesehatan hewan dan keamanan pangan asal hewan.
Menurutnya, mahasiswa dibekali pengalaman langsung untuk mendukung pengawasan kesehatan masyarakat veteriner sekaligus mendukung target pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin tanpa kelaparan dan kehidupan sehat serta sejahtera.
Sementara itu, Guru Besar FKH UNAIR Lilik Maslachah menilai kolaborasi antara akademisi, dinas terkait, dan dokter hewan di daerah menjadi langkah penting dalam memperkuat pengawasan kesehatan ternak menjelang Idul Adha.
Ia menekankan bahwa peran dokter hewan tidak hanya terbatas pada kesehatan hewan, tetapi juga sangat strategis dalam menjaga kesehatan manusia dan lingkungan. Menurutnya, meningkatnya perhatian terhadap penyakit zoonosis, termasuk kemunculan kasus penyakit tertentu seperti Hantavirus, membuat pengawasan kesehatan hewan menjadi bagian penting dalam sistem kesehatan terpadu.
Selain melakukan pengawasan kesehatan ternak, para mahasiswa juga dibekali pengetahuan teknis sebelum diterjunkan ke lapangan. Ketua BEM FKH UNAIR Revo Haedar Elmirza mengatakan mahasiswa mendapatkan materi mengenai anatomi hewan, patologi veteriner, hingga kesehatan masyarakat veteriner.
Pembekalan tersebut dilakukan agar mahasiswa mampu mengidentifikasi perbedaan organ sehat dan organ yang terindikasi penyakit, serta memahami dampaknya terhadap kesehatan manusia apabila daging yang dikonsumsi tidak memenuhi standar kesehatan.
Revo menambahkan, selama kegiatan berlangsung mahasiswa juga diwajibkan melakukan pendataan, pelaporan hasil pemeriksaan, evaluasi lapangan, hingga penyusunan laporan akhir sebagai bagian dari penilaian akademik oleh dosen pembimbing lapangan.
Menurutnya, keterlibatan langsung di lapangan memberikan pengalaman praktis yang tidak didapatkan di ruang kelas. Mahasiswa dapat memahami kondisi riil kesehatan ternak di masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan analisis terhadap potensi penyakit hewan yang ditemukan selama pemeriksaan.
Program pengawasan kesehatan ternak yang dilakukan FKH UNAIR tersebut menjadi salah satu langkah preventif penting menjelang Idul Adha, ketika kebutuhan hewan kurban dan konsumsi daging masyarakat meningkat signifikan. Dengan keterlibatan mahasiswa dan tenaga akademisi, pengawasan kualitas daging kurban diharapkan semakin optimal demi menjaga kesehatan masyarakat.

