Ganjar : Rawat Perbedaan dan Kebangsaan
KOMUNITAS PERISTIWA

Ganjar : Rawat Perbedaan dan Kebangsaan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi berkumpulnya perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia dalam BEM Nusantara di UIN Raden Mas Said Surakarta. Menurutnya, hal itu merupakan wujud merawat perbedaan dalam bingkai kebangsaan.

“Ini luar biasa. Apresiasi saya luar biasa karena seluruh Indonesia kumpul di sini. Menurut saya dahsyatlah. Keinginan atau memperingati sumpah pemuda, merawat kebangsaan,” kata Ganjar, seusai menjadi pembicara dalam acara pengukuhan BEM Nusantara dan Seminar Nasional, di Aula UIN Raden Mas Said Surakarta, Senin (31/10).

Ganjar berharap, pertemuan mahasiswa yang membahas tentang kebangsaan dan bagaimana merawat perbedaan kemudian dapat direalisasikan melalui aksi-aksi di lapangan. Tentu saja, aksi yang mencerminkan warna kebangsaan itu sendiri dengan kreativitas dan inovasi dari anak-anak muda.

“Tentu saya senang, ketuanya tadi bicara bagaimana nilai-nilai kebangsaan telah Bung Karno teriakkan waktu itu. Nah sekarang generasi muda mesti menyiapkan diri untuk merespons itu. Banyak kok yang kreatif, yang inovatif menjadi sociopreuneur untuk menyelesaikan persoalan itu. Hari ini mereka sepakat untuk menjaga itu semua. Kalau begini kita selalu optimis,” ungkapnya.

Menurut Ganjar, anak-anak muda dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam BEM Nusantara itu pasti memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap daerahnya masing-masing. Dengan intelektualitas dan kekritisannya, banyak isu yang dapat mereka ambil. Misalnya, isu BBM dengan pendataan atau ketidaktepatan penyaluran bantuan.

“Ada tentu pikiran kritis seperti yang disampaikan. Tentu sisi yang lain mereka juga punya solusi bahwa prosesnya masih berlangsung, karena mahasiswa tentu saja perlu dilakukan terus-menerus dan bimbingan,” ungkapnya.

Maka, lanjut Ganjar, satu data Indonesia itu merupakan hal penting. Mahasiswa yang memiliki intelektualitas, ilmu, metodologi, dan prosesnya bisa berkontribusi untuk menuntaskan.

“Mahasiswa bisa mengambil itu (ikut mengawasi penyaluran bantuan agar tepat sasaran). Atau empowering untuk mendorong, mereka yang membutuhkan bisa didampingi. Itu juga bisa. Mereka bisa berkontribusi. Bahkan mulai dari yang kecil ya, soal data di desa melalui kuliah kerja nyata, di lingkungannya, atau di kampusnya,” katanya.

Sementara itu, salah seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Boyolali sempat melontarkan pertanyaan kepada Ganjar tentang bagaimana memulihkan kewibawaan negara. Sebab, kewibawaan negara dinilai semakin merosot karena banyak kasus yang tidak tuntas salah satunya tentang pelanggaran HAM.

“Ya negara harus mengembalikan kewibawaannya. Ada kasus ya harus segera diselesaikan. Mengembalikan sesuatu dengan cepat itu penting,” jawab Ganjar.

Gubernur juga sempat menyinggung mengenai keamanan atau kondusivitas wilayah. Bahkan, dengan tegas Ganjar akan pasang badan jika ada warganya yang merasa terancam.

“Ada yang merasa terancam di sini? Saya akan lindungi kamu. Kalau hari ini ada yang tidak aman, saya yang bertanggung jawab,” tandasnya. (hms)