Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui gaya bicara ‘koboi’nya. Hal itu menurutnya biasa saat dia masih di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), tapi berbeda di Kementerian Keuangan.
“Saya masih pejabat baru di sini, menterinya juga menteri kagetan. Jadi kalau ngomong, kalau kata Ibu Sri Mulyani, gayanya koboi,” kata Purbaya usai acara sertijab di Kementerian Keuangan, Selasa (09/09).
“Kalau di LPS sih gak ada yang monitor, jadi saya tenang. Ternyata di keuangan beda, salah ngomong langsung diplintir sana sini, jadi kalau kemarin ada kesalahan saya minta maaf,” ujarnya.
Purbaya berjanji ke depannya akan lebih baik lagi. Sebagai menteri keuangan baru, ia juga mengatakan akan berusaha semaksimal mungkin.
“Nanti minta juga petunjuk dari Ibu Sri Mulyani, supaya kebijakan fiskal kita bisa bagus. Ekonomi secara keseluruhan juga bisa tumbuh lebih baik lagi,” ucapnya.
Purbaya minta diberi waktu untuk bekerja dengan baik. “Nanti kalau sudah beberapa bulan, baru Anda kritik habis-habisan,” kata Purbaya pada media sambil tersenyum.
Sebelumnya, beberapa pernyataan Purbaya memang sempai menuai kritik dari publik. Terutama komentarnya soal tuntutan 17+8 yang disebutnya hanya tuntutan sebagian kecil rakyat.
Purbaya sudah minta maaf dan meluruskan pernyataannya itu. Ia berjanji akan memperbaiki perekonomian agar lapangan kerja lebih banyak.
Dalam pidato resmi pertamanya, Purbaya menegaskan tiga peran utama kebijakan fiskal negara, yaitu untuk menjaga stabilitas fiskal, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Dengan kerendahan hati, saya mohon dukungan seluruh jajaran Kemenkeu untuk bekerja bersama saya, guna memastikan bahwa kebijakan fiskal tetap berperan sebagai instrumen yang kuat dalam menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan memwujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Purbaya.
Purbaya juga menyinggung tantangan global mulai dari geopolitik, teknologi, hingga perubahan iklim yang bisa menimbulkan risiko sekaligus peluang bagi Indonesia. “Geopolitik akan menjadi game changer, dan Indonesia tidak bisa lepas dari dampaknya. Jajaran Kemenkeu harus memahami isu-isu strategis,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diterimanya selama menjabat. Ia berpesan agar Kemenkeu tetap menjadi pilar stabilitas dan instrumen penting untuk kesejahteraan rakyat.
“Saya titip untuk terus menjaga keuangan negara dan Kementerian Keuangan sebagai pilar stabilitas dan instrumen yang luar biasa penting untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Sri Mulyani.
Sri Mulyani meminta seluruh pegawai mendukung kepemimpinan baru dengan profesionalisme dan integritas. “Bantu pimpinan yang baru dan terus melaksanakan tugas dengan dedikasi,” ujarnya.
Serah terima jabatan ini menjadi momen peralihan penting di Kemenkeu. Sri Mulyani, yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan selama total sekitar 14 tahun, menyerahkan tongkat estafet kepada Purbaya Yudi Sadewa, ekonom yang sebelumnya menjabat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan sejak tahun 2020. (rri)

