Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menambah jajaran akademisi bergelar guru besar melalui pengukuhan Prof Dr Mahmudah Ir M Kes sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Biostatistika Multivariat. Dalam prosesi pengukuhan yang digelar pada Rabu (13/5/2026), Prof Mahmudah menyoroti pentingnya transformasi sistem kesehatan nasional melalui pemanfaatan data multidimensional yang terintegrasi.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof Mahmudah mengangkat konsep Precision Public Health atau kesehatan masyarakat presisi sebagai pendekatan baru yang dinilai relevan dalam menghadapi perubahan pola penyakit di Indonesia. Menurutnya, tantangan kesehatan saat ini tidak lagi dapat diselesaikan menggunakan pendekatan konvensional yang bersifat umum dan seragam.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi transisi epidemiologi, yakni pergeseran dari dominasi penyakit menular menuju peningkatan penyakit tidak menular yang dipengaruhi oleh gaya hidup, lingkungan, hingga faktor sosial masyarakat. Kondisi tersebut menuntut hadirnya kebijakan kesehatan yang lebih adaptif dan berbasis data.
“Pendekatan kesehatan masyarakat saat ini perlu bergerak menuju sistem yang lebih presisi. Kebijakan tidak bisa lagi disamaratakan karena setiap wilayah memiliki karakteristik lingkungan, sosial, dan kesehatan yang berbeda,” ujar Prof Mahmudah.
Menurutnya, konsep Precision Public Health memungkinkan pemerintah maupun pemangku kebijakan mengambil keputusan berdasarkan analisis data yang lebih spesifik dan akurat. Data tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, mulai data kesehatan masyarakat, kondisi lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi satelit untuk memantau potensi risiko penyakit di suatu daerah.
Ia mencontohkan pemanfaatan data kelembapan udara, kondisi cuaca, hingga kepadatan lingkungan sebagai instrumen penting dalam memprediksi potensi wabah penyakit di suatu wilayah. Dengan dukungan teknologi dan analisis statistik yang tepat, intervensi kesehatan dapat dilakukan secara lebih cepat, efektif, dan efisien.
“Kita sebenarnya memiliki banyak sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebijakan kesehatan. Data satelit misalnya, dapat membantu memantau kondisi lingkungan tertentu yang berpotensi memicu munculnya penyakit. Dari situ, intervensi pemerintah bisa lebih spesifik dan tepat sasaran,” jelasnya.
Selain menekankan pentingnya data, Prof Mahmudah juga menyoroti perlunya integrasi sistem informasi kesehatan secara nasional. Menurutnya, selama ini data kesehatan di Indonesia masih tersebar di berbagai institusi dan belum sepenuhnya terhubung secara optimal.
Padahal, integrasi data menjadi elemen penting dalam membangun sistem kesehatan modern yang mampu merespons perubahan secara cepat. Tanpa adanya integrasi dan sinkronisasi data, kebijakan kesehatan berisiko tidak tepat sasaran karena tidak didukung informasi yang komprehensif.
“Transformasi kesehatan tidak cukup hanya dengan teknologi. Integrasi data antarlembaga dan kolaborasi lintas sektor menjadi syarat utama agar sistem kesehatan dapat berjalan maksimal,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Mahmudah juga menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam mendukung transformasi kesehatan berbasis data. Menurutnya, pemanfaatan data yang besar dan kompleks memerlukan tenaga profesional yang memiliki kompetensi di bidang analisis statistik, kesehatan masyarakat, dan teknologi informasi.
Ia menyebut, keseimbangan antara kualitas data dan kemampuan SDM menjadi kunci agar program kesehatan pemerintah dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan. Dengan SDM yang kompeten, data tidak hanya menjadi kumpulan angka, tetapi dapat diolah menjadi dasar pengambilan kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Data yang lengkap harus diimbangi dengan SDM yang mampu mengelola dan menganalisisnya. Dengan begitu, kebijakan kesehatan dapat berjalan lebih transparan, efektif, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” tegasnya.
Perjalanan Prof Mahmudah menuju gelar guru besar juga tidak lepas dari tantangan pribadi yang cukup besar. Ia mengungkapkan bahwa proses akademik yang dijalaninya sempat terhambat setelah kepergian suaminya pada tahun 2018. Dalam situasi tersebut, ia harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal sambil tetap melanjutkan aktivitas akademik dan penelitian.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Prof Mahmudah tetap berkomitmen menyelesaikan perjalanan akademiknya hingga meraih jabatan tertinggi di lingkungan perguruan tinggi. Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus memberikan kontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat dan biostatistika.
“Dengan amanah ini, saya berharap bisa terus memberikan manfaat yang lebih luas, baik dalam pengembangan keilmuan maupun kontribusi bagi masyarakat,” pungkasnya. (ita)

