Keberhasilan Kota Surabaya menekan angka kemiskinan tidak lepas dari masifnya inovasi yang lahir dari berbagai lapisan masyarakat. Sepanjang 2025, tercatat 1.214 inovasi dari pemerintah, warga, akademisi, hingga komunitas, yang menjadikan Surabaya meraih predikat kota terinovatif nasional dalam Innovative Government Award (IGA) 2025.
Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menyebut inovasi di Surabaya bukan sekadar formalitas administratif, melainkan solusi nyata atas persoalan sosial.
“Inovasi bukan hanya soal penghargaan, tetapi bagaimana pelayanan publik dan birokrasi menjadi lebih efisien serta berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagian besar inovasi lahir dari partisipasi publik. Selain 355 inovasi dari Pemkot Surabaya, ratusan inovasi lainnya digagas oleh perguruan tinggi, pelajar SMA/SMK, komunitas, dan masyarakat umum.
Dampaknya terlihat jelas pada indikator kesejahteraan. Angka kemiskinan Surabaya turun signifikan dari 5,23 persen menjadi 3,56 persen. Tingkat pengangguran terbuka hampir terpangkas setengah, sementara ketimpangan sosial juga terus menurun.
Irvan menegaskan, kunci utama keberhasilan Surabaya terletak pada penggunaan data terpadu melalui konsep One Data, One Map, One Policy, yang memungkinkan intervensi sosial dilakukan secara presisi.
“Ketika data kita valid dan realtime, bantuan sosial, pelatihan kerja, hingga pemberdayaan ekonomi bisa tepat sasaran,” jelasnya.
Meski demikian, Pemkot Surabaya menyadari data bersifat dinamis. Karena itu, pembaruan data sosial terus dilakukan secara berkala dengan melibatkan RT/RW, ASN, dan masyarakat.
Irvan menutup dengan menekankan bahwa capaian Surabaya merupakan hasil kolaborasi pentahelix, melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat sipil.
“Keberhasilan ini adalah kerja bersama. Inilah kekuatan Surabaya,” pungkasnya. (tas)

