Upaya memperkuat kemandirian sektor akuakultur nasional menjadi sorotan dalam pengukuhan Ahmad Shofy Mubarak sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Reproduksi Hewan Air di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Kamis (9/4/2026). Dalam orasi ilmiahnya, ia menekankan pentingnya inovasi teknologi budidaya untuk mendukung ketahanan pangan berbasis perikanan di Indonesia.
Menurut Prof Shofy, peningkatan produksi perikanan tidak hanya bergantung pada kuantitas, tetapi juga kualitas benih dan efisiensi sistem budidaya. Salah satu tantangan utama yang dihadapi industri saat ini adalah ketergantungan terhadap pakan alami impor, khususnya kista Artemia sp., yang selama ini menjadi komponen penting dalam pembenihan ikan dan udang.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia belum memiliki spesies endemik Artemia sp. karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Ketergantungan terhadap impor pakan tersebut dinilai berisiko terhadap keberlanjutan industri akuakultur nasional, terutama dari sisi biaya produksi dan stabilitas pasokan.
Sebagai solusi, Prof Shofy mengembangkan teknologi reproduksi berbasis zooplankton lokal, yakni Moina macrocopa. Spesies ini dinilai memiliki kandungan nutrisi yang sebanding dengan Artemia, sekaligus lebih adaptif terhadap kondisi perairan di Indonesia. Melalui pendekatan ilmiah, ia berhasil mengoptimalkan produksi telur dorman atau ephipia melalui induksi reproduksi seksual.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan kombinasi faktor stres lingkungan seperti kepadatan populasi, kondisi hipoksia, serta pengaturan nutrisi. Metode ini mampu meningkatkan produksi individu jantan dan betina seksual yang berperan dalam pembentukan telur berkualitas tinggi, sekaligus mendukung ketersediaan pakan alami secara berkelanjutan.
Selain itu, Prof Shofy juga menyoroti permasalahan dalam budidaya ikan nila, yang cenderung mengalami reproduksi dini. Kondisi ini menyebabkan energi ikan lebih banyak terserap untuk proses reproduksi dibandingkan pertumbuhan, sehingga berdampak pada ukuran panen yang kurang optimal.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia memperkenalkan inovasi berbasis bahan lokal berupa kacang kara benguk (Mucuna pruriens). Tanaman ini mengandung L-Dopa yang berfungsi mengatur hormon reproduksi ikan. Melalui suplementasi dalam pakan, senyawa tersebut mampu menekan perkembangan gonad sekaligus meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan ikan.
Pendekatan ini dinilai tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal sebagai solusi inovatif dalam sektor perikanan. Dengan demikian, ketergantungan terhadap bahan impor dapat ditekan secara bertahap.
Melalui berbagai inovasi tersebut, Prof Shofy berharap sektor akuakultur Indonesia dapat berkembang lebih mandiri dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa integrasi antara teknologi, sumber daya lokal, dan riset ilmiah menjadi kunci utama dalam menjawab tantangan industri perikanan di masa depan. (tas)

