Inovasi berbasis energi terbarukan karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mencuri perhatian dunia. Melalui produk turbin angin dan surya bernama Terangin (Terang dan Angin), tim mahasiswa ITS berhasil menembus jajaran Top 6 dalam ajang internasional Fowler Global Innovation Challenge 2026 di Amerika Serikat.
Inovasi ini hadir sebagai solusi konkret atas permasalahan klasik yang dihadapi petani, yakni serangan hama yang kerap menyebabkan kerugian besar hingga gagal panen. Dengan memanfaatkan potensi energi angin dan matahari, Terangin dirancang untuk mendukung aktivitas pertanian secara berkelanjutan dan efisien.
Penggagas utama Terangin, Muhammad Hanif, menjelaskan bahwa inovasi ini berangkat dari riset kompetisi yang kemudian berkembang menjadi solusi aplikatif. Ia melihat peluang besar dari kondisi geografis Kabupaten Nganjuk yang memiliki potensi angin cukup tinggi sekaligus dikenal sebagai sentra pertanian bawang merah.
Dalam implementasinya, Terangin menggunakan sistem microgrid yang mengombinasikan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis. Pendekatan ini memungkinkan petani mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di lahan pertanian.
Keunggulan lain dari inovasi ini terletak pada desain konstruksi yang fleksibel dan ekonomis. Terangin menggunakan pondasi modular non-permanen yang dapat dibongkar pasang, sehingga cocok diterapkan di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan sewa. Model ini juga mampu menekan biaya pembangunan secara signifikan dibandingkan dengan metode konvensional berbasis beton.
Dari sisi teknis, tim juga mengembangkan sistem rem otomatis berbasis angin yang bekerja tanpa listrik maupun sensor tambahan. Teknologi ini dirancang untuk menjaga stabilitas turbin sekaligus meminimalkan kebutuhan perawatan, sehingga lebih praktis bagi pengguna di lapangan.
Untuk mendukung pemeliharaan, Terangin memanfaatkan teknologi drone dalam proses monitoring. Pendekatan ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi kerusakan tanpa harus melakukan pemeriksaan manual secara langsung, sehingga lebih efisien dan aman.
Secara performa, sistem ini mampu menghasilkan energi sekitar 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya digunakan untuk mengoperasikan lampu jebakan hama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain seperti sistem irigasi dan penyiraman tanaman.
Dampak ekonomi dari inovasi ini dinilai cukup signifikan. Penggunaan Terangin mampu menekan biaya operasional petani hingga puluhan juta rupiah per hektare setiap musim tanam. Selain itu, risiko gagal panen akibat hama yang sebelumnya cukup tinggi dapat dikurangi secara drastis.
Pengembangan Terangin melibatkan kolaborasi lintas disiplin dari mahasiswa ITS, antara lain Rafi Pradana, Diah Ayu NurFadillah, Rafi S Lamikan, dan Anindya Khoirunnisya. Sinergi ini menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan solusi yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif di lapangan.
Keberhasilan menembus Top 6 di ajang internasional sekaligus membawa pulang penghargaan senilai 3.000 dolar AS menjadi bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu bersaing di tingkat global. Saat ini, Terangin juga telah berkembang menjadi startup dengan capaian omzet ratusan juta rupiah dari penjualan produk dan dukungan pendanaan.
Ke depan, tim Terangin berencana memperluas implementasi teknologi ini ke wilayah pesisir yang memiliki potensi angin lebih besar. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat inovasi sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pengembangan energi bersih.
Capaian ini menegaskan komitmen ITS dalam mendorong inovasi berbasis riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Terangin juga sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek energi bersih, inovasi industri, serta produksi berkelanjutan. (ita)

