Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Jatim Art Forum, Merawat Kerakyatan

Jatim Art Forum, Merawat Kerakyatan

SENI BUDAYA redaksi31/10/2017 - 11:00 WIB

Dewan Kesenian Jawa Timur menggelar ‘Jatim Art Forum 2017’ di Monumen Kapal Selam Surabaya, 27 – 29 Oktober 2017. Perhelatan kesenian bertajuk ‘Spirituality Art dalam Membangun Kebudayaan Indonesia’ menghadirkan sejumlah seniman dan kelompok seni dari Jawa Timur dan luar Jawa Timur.

Acara dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Drs Saifullah Yusuf, pada hari pertama menampilkan Gandrung Banyuwangi, dengan bintang utama Monica, didukung musik-musik tradisional.

“Yang menarik adalah Kesenian Kesurupan Massal, yang diasuh Mbah Jali dan Mbah Didik dari Tulungagung, ini mencoba menampilkan bentuk kesenian rakyat yang khas yang tetap hidup sampai sekarang,” tutur Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT)
Taufik ‘Monyong’ Hidayat.

Dijelaskan Taufik Monyong, panggilan akrabnya, Jatim Art Forum 2017 memberikan penawaran bagi pentas kesenian khas di provinsi ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa identitas kerakyatan yang tetap terpelihara di tengah masyarakat adalah melalui kesenian. Kesenian ini memperoleh dukungan di komunitas-komunitas tradisional, merata di Jawa Timur,” tuturnya.

Sebagaimana sajian musik rakyat, usai acara pembukaan ditampilkan pula kelompok dari Probolinggo pimpinan Abdu, Situbondo pimpinan Jefri, Musik Paglak Kemiren Banyuwangi pimpinan Suhaimi dan musikalisasi puisi bersama Adit.

Pada hari kedua, Sabtu tanggal 28 Oktober 2017, mulai pk 19.00 WIB, dimeriahkan bersama band modern dan musik alternatif. Yang menarik pada malam kedua ini, penampilan sejumlah seniman dari luar Jawa.

Seperti kelompok kesenian yang diasuh Dewan Kesenian Gorontalo, pimpinan Fandi, Dewan Kesenian Sulawesi Selatan pimpinan Asia Ramli, Dewan Kesenian Sulawesi Tengah pimpinan Hapri Poigi dan Dewan Kesenian Kalimatan Timur pimpinan Hamdani.

Sedang pada hari ketiga, Minggu (29/10), mulai pukul 07.00 – 17.00, menghadirkan gebyar band alternatif. “Dilanjutkan dengan penampilan Koreografi dari Jawa Timur, mulai pk 19.00 WIB. Selain itu, juga pertunjukan Sastra Jawa Timur, dan pentas Ludruk Arboyo sebagai bentuk teater rakyat khas Jawa Timur.

Menurut Aliyudin, penanggung jawab Jatim Art Forum 2017, pelibatan seluruh seniman, baik tradional maupun modern, menujukkan betapa perkembangan kesenian di Jawa Timur cukup dinamis.

“Apalagi, kami coba berinteraksi dengan kelompok-kelompok seniman di luar Jawa Timur, khususnya di luar Jawa, sebagai bentuk komunikasi di bidang kebudayaan. Dengan begitu, kita bisa membandingkan karya-karya seniman Jawa Timur dengan di luar provinsi ini,” tuturnya.

Ditambahkan Taufik Monyong, kehadiran para seniman dari luar Jawa Timur, khususnya dari luar Jawa, merupakan ikhtiar membangun networking (jejaring) kebudayaan, yang termaknai lewat pentas kesenian karya-karya mereka.

Di zaman kini, membangun jaringan merupakan bagian penting dari ikhtiar menciptakan suasana yang harmonis di tengah-tengah masyarakat. Dengan suasana kesenian dan pementasannya yang khas, masing-masing berusaha mengedepankan identitas kebudayaan, sehingga memperkaya kebudayaan Indonesia. “Ini kenyataan yang harus dipelihara, kebudayaan Indonesia beraneka ragam namun mewujudkan kesatuan kebangsaan yang utuh dan terpelihara,” tutur Taufik Monyong.

Menjadi catatan, tampilnya sejumlah komunitas kesenian tradisional merupakan ikhtiar DKJT untuk menjaga identitas kesenian rakyat sebagai bagian dari kesenian kita.

Seperti Musik Bungkel Per’reng, Situbondo, diproduksi dan dimainkan oleh masyarakat desa pinggiran di daerah tersebut. Pelaku kesenian ini adalah Pak Tutun dan Pak Beng. Musik ini terbuat dari bambu duri. Alat musik tradisional dari bambu yang menghasilkan bunyi mirip kenong, kendang dan gong ini memiliki karakteristik yang unik.

Selain itu, ada Musik Angklung Caruk dari Banyuwangi. Kata “ Caruk” berasal dari bahasa Osing, yang berarti “bertemu”. Pertemuan dua kelompok pemain angklung dan mereka saling mengadu ketangkasan memainkan angklung, disebut dengan angklung caruk. Dua grup tersebut memainkan angklungnya bersama dan saling bersaing ketangkasan.

Untuk penonton biasanya terbagi dalam 3 kelompok : dua di antaranya merupakan rival yang masing-masing mendukung angklung kesayagannya. Sedang yang satu berpihak pada dua pemain angklung dan mereka ingin mengetahui secara keseluruhan permainan. Permainan angklung ini menjadi sangat meriah, karena dukungan masing-masing penonton. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.