Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya
KOMUNITAS PERISTIWA

Kebiasaan Remeh Hasilkan Karya

Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, kampung kota menjadi tempat yang layak untuk mencari modernitas baru yang berbeda dengan budaya mainstream/pop.

Lokakarya “Ritus Liyan” berusaha menyampaikan hal itu. Selama empat hari, terhitung mulai Selasa hingga Jumat (19-22/03) di Kampung Plampitan, Kelurahan Peneleh, Kota Surabaya.

Airlangga Institute for Indian Ocean Crossroad (AIIOC) menyelenggarakan lokakarya itu untuk menemukan kreativitas, mendekolonisasi budaya, dan menghasilkan karya. Hasil karya akan dipamerkan pada Mei mendatang di Kampung Plampitan.

Aarti Kawlra selaku direktur Akademis Humanities Across Borders; Bintang C Putra selaku direktur Operation for Habitat Studies; serta Program Manager Anitha Silvia turut memandu jalannya acara.

“Ritus sering diartikan sebagai perayaan hal besar yang terjadi dalam hidup kita. Namun, kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari dianggap sebagai hal yang remeh. Sehingga menjauhkan kita dari makna mendalam dalam tindakan kita,” jelas Bintang.

Di Kampung Plampitan, terdapat satu produk unggulan, yakni Batik Peneleh. Nama Peneleh bukan hanya diambil dari nama perkampungan, namun juga berasal dari kata penilih yang memiliki arti yang terpilih atau unggul. Motif batik Peneleh bervariasi dari logo khas Peneleh hingga motif sungai.

Motif sungai, alih-alih berwarna biru, Batik Peneleh berwarna hijau. Suminah, mantan ketua RW II Plampitan serta penggerak Batik Peneleh, menyampaikan bahwa warna hijau dipilih karena menyesuaikan dengan realita saat ini. Di mana air sungai berwarna hijau.

“Kok warnanya hijau? Ya realistis dan kontemporer aja. Kan memang faktanya begitu,” ungkapnya.

Realistis dan kontemporer sering dilupakan saat membuat suatu karya seni. Dari kasus di atas, membuktikan bahwa hal yang remeh seperti sungai yang sering kita lihat apa adanya masih bisa menjadi sebuah karya seni tanpa perlu melebih-lebihkan.

Di sisi lain, Aarti mengatakan bahwa banyak penelitian-penelitian budaya yang dilakukan antropolog itu tidak melihat hal yang remeh. Padahal, hal yang remeh itu dapat menjadi sebuah karya yang unik.

“Contohnya ketika mereka (antropolog, Red) meneliti tentang petani. Yang mereka pilih adalah petani beras, petani gandum, dan sejenisnya. Ada petani indigo yang bisa diteliti, namun mereka tidak memilihnya karena mereka luput dari fokus pandangan akademisi-akademisi itu,” ujarnya.

Aarti berharap lokakarya tersebut dapat menghasilkan karya yang tidak mainstream, karya yang unik, yang merepresentasikan kearifan lokal Kampung Plampitan ke dalam karya seni para peserta.

Lokakarya empat hari itu merupakan awal untuk pembuatan proyek para peserta. Proyek dapat berupa foto, video, gambar, suara, puisi, mural, seni pertunjukan, dan lainnya. Peserta dapat mengerjakan proyek mereka selama 6 minggu, disertai diskusi bersama sekali setiap minggunya dan dipamerkan pada eksibisi (24-31/05) di Kampung Plampitan. (ita)