Kisah Warga Wadas, Beli Rp11,5 Juta Diganti Rp3,8 Miliar
KOMUNITAS PERISTIWA

Kisah Warga Wadas, Beli Rp11,5 Juta Diganti Rp3,8 Miliar

Soleh tak menyangka, lahan kebunnya di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, terkena dampak pembangunan kuari Bendungan Bener. Namun lebih tak menyangka lagi jika lahannya dinilai jauh lebih besar dari harga belinya dulu.

Pria asal Desa Kaliwader, Kecamatan Bener, ini mengaku kaget begitu lahannya di Desa Wadas dinilai Rp3,8 miliar. Nilai ganti untung itu, di luar dugaannya.

“Kula mboten nyangka gantine Rp3,8 miliar (Saya tidak menyangka dapat ganti Rp3,8 miliar). Saget kelaksanan (bisa terbayar) nilai sebesar itu. Kula beli tiga bidang tanah Rp11,5 juta. Sekarang untung (jadi) Rp3,8 miliar,” tuturnya, ditemui di rumahnya di Desa Kaliwader, Kamis (28/04).

Soleh hari itu baru saja menerima uang ganti untung bersama 233 warga terdampak pembangunan kuari Bendungan Bener, di Balai Desa Cacaban Kidul. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai petani ini amat bersyukur, karena lahannya dinilai lebih tinggi dari yang dia sangka.

Dia mengatakan jika tidak ada ganti untung Bendungan Bener, bila dijual, lahannya hanya bernilai Rp15 juta. Tentu saja, nilai ganti untung fantastis itu seolah menjadi ‘uang kaget’.

“Kula kaget sekali kayak uang kaget. Menerima uang sebesar itu. Belum pernah menerima. Baru satu kali ini. Punya (lahan) saya kalau tidak ada pembangunan kuari Bendungan Bener paling laku Rp15 juta,” ucap pria berusia 49 tahun ini.

Soleh mengenang, seingatnya pada 1989 silam membeli lahan di desa sebelah, yaitu di Desa Wadas. Bidang tanah yang pertama dibeli Rp2,5 juta. Bidang kedua Rp4 juta, dan lahan ketiga Rp5 juta. Sehingga totalnya Rp11, 5 juta.

Lahan itu dikelola semaksimal mungkin, dengan menanami durian, kopi, kelapa, dan lainnya. Setiap tahun, tanahnya yang produktif itu mampu menghasilkan Rp250 ribu, atau Rp25 ribu per bulan.

“Tanah kula ten (tanah saya di) Wadas kena pembangunan Bendungan Bener. Kula sampun ( saya sudah) merelakan. Kula nggih angsal (saya sudah dapat ganti untung). Kula niku tanah, tanah numpang (saya memiliki tanah namun tanahnya numpang). Kula riyin tumbas (saya dulu beli). Kula niku kuasa (memiliki tanah). Tapi ada yang lebih kuasa. Kalau tanah dibutuhkan negara, kula nggih mangga (saya persilakan),” bebernya.

Besarnya nilai ganti untung tanahnya, membuat Soleh sekeluarga senang. Sebab, Soleh bisa memanfaatkan uang untuk berbagai kebutuhan. Ada beberapa rencana yang siap diwujudkan dengan uang ganti untung itu. Namun dari sekian rencananya, dia ingin membeli tanah sebagai pengganti tanahnya yang terdampak.

“Kalau bisa beli tanah lagi. Sedapatnyalah di daerah sekitar. Kalau tidak ada di luar daerah. Di manapun yang ada. Tapi kalau bisa ya yang dekat saja karena sudah tua,” imbuh pria dua cucu ini.

Kepala BPN Purworejo, Andri Kristanto berharap warga yang telah menerima uang ganti untung bisa mempergunakan uang dengan sebaik-baiknya.

“Kalau untuk modal usaha, memperlebar usaha, mangga. Mungkin mau mencari tanah pengganti, silakan. Ya jangan dihambur-hamburkan nanti. Jangan sampai kejadian di kabupaten lain terjadi di Kabupaten Purworejo,” imbaunya.

Pembayaran ganti untung yang dilakukan totalnya 296 bidang. Dengan total nilainya kurang lebih Rp335 miliar. (hms)