Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membangun ekosistem musik klasik melalui Jakarta City Philharmonic (JCP) 2017.
Setelah sukses diadakan empat kali dengan berbagai tema sejak akhir tahun lalu Jakarta City Philharmonic menampilkan tema Schjumanniana pada Rabu (12/7) di Gedung Kesenian Jakarta. Jakarta City Philharmonic tahun ini akan digelar sampai bulan November 2017.
“Bekraf percaya, pemasaran program seni yang berhasil dan berkesinambungan membutuhkan ekosistem yang baik,” ujar Deputi Pemasaran Joshua Puji Mulia Simandjuntak.
Menurut Joshua langkanya pertunjukan orkestra menyebabkan tidak berkembangnya ekosistem pendukung – bukan hanya infrastruktur, manajemen, pembiayaan, dan apresiasi – tetapi juga kesiapan sumber daya manusianya.
“Besar harapan kami bahwa JCP tidak sekadar menjadi produk seni, melainkan turut membangun institusi yang mampu menjaga keberlanjutan hidupnya,” kata Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta Irawan Karseno.
Ia menambahkan ini semua tergantung tekad bersama antara komunitas musik, Bekraf, dan Pemda DKI. “Karena bagaimanapun juga JCP menjadi wajah masyarakat Jakarta, menjadi identitas kota, sekaligus simbol peradaban kita”, pesan Irawan.
Edisi kelima JCP ini diaba langsung oleh Pengaba Utama Budi Utomo Prabowo serta mengundang solois selo Asep Hidayat Wirayudha.
Sedangkan Schjumanniana dapat diterjemahkan sebagai sebuah kaleidoskop karya-karya musik seorang komponis Jerman Robert Schumann dan seorang komponis Indonesia Aksan Sjuman yang keanehannya, keeksentrikannya, serta keunikan persona penciptanya akan dirayakan oleh Jakarta City Philharmonic. (sak)

