Pelaksanaan ujian jalur Mandiri Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi momentum bagi para calon mahasiswa untuk menunjukkan keseriusan dan komitmen dalam meraih perguruan tinggi impian. Salah satu kisah datang dari Rebecca Nicole Wangania, siswi lulusan Manado Independent School, Sulawesi Utara, yang rela menempuh perjalanan udara menuju Surabaya demi mengikuti seleksi masuk Fakultas Kedokteran (FK) UNAIR.
Didampingi ibundanya, Rebecca berangkat dari Manado menuju Surabaya dengan transit di Makassar. Perjalanan tersebut memakan waktu hampir tiga jam dan menjadi bagian dari upaya yang ia tempuh untuk mewujudkan cita-citanya menempuh pendidikan kedokteran di UNAIR.
Bagi Rebecca, memilih UNAIR bukan keputusan yang muncul secara mendadak ataupun sekadar alternatif pilihan pendidikan tinggi. Sejak awal proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), ia telah menetapkan Fakultas Kedokteran UNAIR sebagai satu-satunya tujuan.
Komitmen tersebut tetap ia pertahankan hingga mengikuti jalur Mandiri. Di tengah berbagai pilihan kampus yang tersedia, Rebecca tetap memusatkan pilihannya pada program studi yang sejak awal menjadi target utamanya.
“Karena dari awal memilih kuliah, kalau untuk perguruan tinggi negeri saya memang lebih tertarik ke UNAIR,” ujar Rebecca saat ditemui di sela pelaksanaan ujian.
Keputusan tersebut juga mendapat pengaruh dari lingkungan keluarga. Rebecca mengungkapkan bahwa sang ayah yang berprofesi sebagai dokter turut memberikan rekomendasi dan pandangan mengenai kualitas pendidikan kedokteran di UNAIR.
Menurutnya, reputasi akademik Fakultas Kedokteran UNAIR sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran yang memiliki rekam jejak panjang di Indonesia menjadi alasan yang semakin memperkuat keyakinannya untuk memilih kampus tersebut.
Selain aspek akademik, lingkungan kampus juga menjadi pertimbangan tersendiri. Rebecca mengaku tertarik dengan suasana kampus UNAIR yang dikenal memiliki banyak ruang terbuka hijau dan pepohonan.
Kondisi tersebut dinilainya dapat memberikan kenyamanan selama menjalani proses perkuliahan dan membantu proses adaptasi, meskipun ia memahami bahwa suhu Kota Surabaya cenderung lebih hangat dibanding daerah asalnya.
Meski demikian, perjalanan menuju cita-cita tersebut tidak sepenuhnya tanpa pertimbangan. Rebecca mengatakan bahwa sang ayah sempat memintanya untuk memikirkan kembali keputusan mengambil jurusan kedokteran karena masa studi yang panjang dan tantangan profesi yang tidak ringan.
Namun, pertimbangan tersebut tidak mengubah pilihannya. Rebecca tetap mantap melanjutkan langkah untuk mengejar impiannya menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran UNAIR.
Sebagai bentuk keseriusan menghadapi seleksi, ia juga melakukan persiapan secara intensif setelah mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Rebecca mengisi waktu dengan mengikuti bimbingan belajar secara daring serta memperbanyak latihan soal guna meningkatkan kesiapan menghadapi ujian Mandiri.
“Selepas pelaksanaan UTBK, saya langsung mengikuti bimbingan belajar daring dan rutin berlatih mengerjakan soal sebagai bentuk persiapan menghadapi ujian mandiri,” tuturnya.
Perjalanan Rebecca menggambarkan bahwa bagi sebagian calon mahasiswa, proses meraih kampus impian tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik, tetapi juga konsistensi, kesiapan, serta keberanian untuk tetap bertahan pada pilihan yang diyakini sejak awal. (ita)

