Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Langkah Modernisasi Naskah Kuno

Langkah Modernisasi Naskah Kuno

PERISTIWA redaksi08/02/2025 - 14:00 WIB

Humaniora digital dipandang menjadi langkah modernisasi dalam hal transfer dari manuskrip atau naskah kuno ke seni pertunjukan. Dengan kata lain, hal ini menjadi salah satu wujud kreativitas sebagai upaya menerjemahkan manuskrip itu ke dalam bentuk-bentuk lain yang mudah dipahami masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Herry Jogaswara, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam Webinar “Humaniora Digital dan Transformasi Manuskrip dalam Seni Pertunjukan”. Kegiatan ini diselenggarakan Pusat Riset Manuskrip dan Tradisi Lisan (PR MLTL) pada Kamis (30/01) lalu.

Lebih lanjut, Herry menjelaskan mulai 2026, pihaknya akan memperkenalkan istilah purwarupa. Menurutnya, ini sebagai sesuatu yang betul-betul nantinya manuskrip bisa dinikmati publik dalam berbagai media, tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga seperti komik maupun gim.

Kepala PR MLTL BRIN, Sastri Sunarti berharap, dengan adanya humaniora digital ini, seluruh sumber manuskrip hasil riset para penelitinya dapat dimanfaatkan. Seperti halnya sastra literatur tradisi lisan dapat diberdayakan.

Hal itu karena tadinya dianggap sebagai sesuatu yang kuno, masa lalu. Maka, dengan adanya humaniora digital dapat disebarluaskan dengan bantuan teknologi.

Selanjutnya, Alan Darmawan, peneliti Pasca Doktoral School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London membahas tentang bagaimana membunyikan naskah manuskrip digital dan penyajiannya melalui seni pertunjukan. Ia memandang dari sudut bagaimana naskah dalam lingkungan sosial dan budaya.

Dalam risetnya, ia memetakan budaya pernaskahan di Sumatra dan melihat kembali atau mempertimbangkan sebenarnya naskah-naskah Islam. Ia mengungkapkan di SOAS, naskah dijadikan sebagai koleksi (perpustakaan naskah), aksara, bahasa, genre, bahan, penjilidan, dan lain-lain.

Dari risetnya itu, ia menjelaskan mengkategorikan naskah yang mewakili tiga wilayah, yaitu Aceh, Minangkabau, dan Palembang. Ini ia tempuh dengan menelusuri perjalanan naskah, mempertimbangkan aspek material, dan para tekstual lainnya.

Alan juga menyampaikan adanya Resonant Pages Project, yaitu reka ulang penyajian teks untuk penonton masa kini. Ini dengan pemanfaatan naskah digital dari tiga repository, yaitu Leiden Digital Collection, Qalamos, dan EAP.

“Mereka menghasilkan karya kreatif, selain artikel ilmiah, buku, dan suntingan naskah,” jelasnya. Di situ terdapat kolaborasi antara peneliti dengan seniman tari dan musik, saat seniman memahami naskah sebagai sumber kreasi seni, sedangkan peneliti memahami naskah melalui pertunjukan untuk pemanfaatan hasil riset.

Alan menyebutkan beberapa contoh yang dilakukan seperti penciptaan karya tari baru dari naskah cerita persebaran Dala’il al- Khayrat di dunia Islam dan Asia Tenggara, tradisi pembacaan shalawat, dan sebagainya. Itu ketika terdapat tarian yang disertai gerak ritmis ritual.

Contoh lainnya, syair dari Palembang yaitu Syair Mambang Jauhari, serta Leva Khudri Balti, Anggara Satria, dan Djangat di Pekanbaru yang memadukan tradisi penceritaan yang menggabungkan syair, tarian, dan musikalisasi puisi. Kemudian Tambo Alam Minangkabau, yang merekam pembacaan naskah oleh Buya Apriya (Lima Puluh Kota).

Caranya dengan merekonstruksi bunyi yang digambarkan dalam teks dan membunyikan alat-alat musik yang disebut dalam teks. Selain itu juga merekam suara alam dan aktivitas sosial sebagai konteks.

Contoh-contoh itu, menurutnya, menunjukkan setiap pertunjukan adalah bukti kekuatan penceritaan. Karena penceritaan sebagai penciptaan permadani memesona yang menggabungkan sastra dan pertunjukan langsung dengan mulus.

Selanjutnya, Agus Heryana, Peneliti PR MLTL BRIN membahas tentang transformasi manuskrip sebagai teks berbuah seni pertunjukan. Menurutnya, transformasi manuskrip dapat digambarkan dalam untaian kata. Mulai dari teks menjadi gerak, dari gerak menjadi gerakan, lalu dari gerakan menjadi pertunjukan.

“Teks bukanlah pertunjukan, pertunjukan pun bukan teks. Teks adalah makna, tersirat dan tersurat dalam manuskrip, sementara pertunjukan adalah ekspresi emosional pelaku seni,” ucap Agus.

Agus lalu memberi contoh sebuah seni pertunjukkan pencak silat Ameng Timbangan. Seni ini menggambarkan olah raga bela diri aliran pencak silat Jawa Barat yang memiliki keunikan. Itu terletak pada gerakan pencaknya yang tidak memiliki unsur kekerasan.

Sedangkan menendang, memukul, serta mencengkram yang menimbulkan rasa sakit sangat dilarang. Semua itu didasarkan pada sumber ajaran kerohanian yang ditulis Raden Moezni Angga Koesoemah, dalam bentuk Teks Ajaran Timbangan, yang salah satu ajarannya menekankan agar setiap manusia itu bersaudara dan memiliki rasa yang sama. (rri)

naskah kuno
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.