Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian masyarakat berbasis pembangunan berkelanjutan dengan melepas ribuan mahasiswa peserta Belajar Bersama Komunitas (BBK) ke-7. Sebanyak 2.716 mahasiswa diterjunkan ke enam kabupaten/kota di Jawa Timur, serta 62 mahasiswa diberangkatkan untuk program BBK internasional ke Malaysia dan Jepang.
Prosesi pelepasan dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C UNAIR, dan dihadiri jajaran pimpinan universitas serta sivitas akademika.
Enam wilayah yang menjadi lokasi BBK regional meliputi Kota Surabaya, Kota Madiun, Kabupaten Gresik, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Banyuwangi. Sementara itu, program BBK internasional menjadi wujud penguatan peran UNAIR dalam pengabdian masyarakat lintas negara.
Media Implementasi Ilmu dan Penguatan Karakter Mahasiswa
Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni (AMA) UNAIR, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, MSi, PhD, menegaskan bahwa program BBK merupakan sarana strategis bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
“BBK ini merupakan media pendidikan, di mana mahasiswa tidak hanya berkutat di dalam kampus, tetapi juga mengejawantahkan ilmunya secara langsung di tengah masyarakat,” ujarnya.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Kelautan tersebut juga berpesan agar mahasiswa senantiasa menjunjung prinsip excellence with morality, menjaga nama baik almamater, serta menunjukkan kinerja sebagai mahasiswa yang tangguh dan berdampak.
“Mahasiswa UNAIR harus mampu menunjukkan kinerja yang solutif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Semoga pelaksanaan BBK 7 ini berjalan lancar tanpa hambatan,” imbuhnya.
BBK 2026 Fokus Program Berkelanjutan Berbasis SDGs
Sementara itu, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR, Prof. Hery Purnobasuki, MSi, PhD, menjelaskan bahwa BBK ke-7 memiliki keunggulan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Program BBK yang berlangsung mulai 5 Januari hingga 2 Februari 2026 ini difokuskan pada program kerja berkelanjutan yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
“Desa-desa tempat mahasiswa mengabdi kami titipkan program unggulan yang sifatnya berkelanjutan. Program tersebut harus tuntas dan mampu memberikan dampak nyata bagi daerah,” jelas Prof. Hery.
Ia menambahkan bahwa keberlanjutan program menjadi kunci agar pengabdian mahasiswa tidak berhenti hanya pada masa KKN atau BBK, tetapi dapat terus dilanjutkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat.
Mahasiswa sebagai Representasi UNAIR
Prof. Hery juga mengingatkan bahwa seluruh peserta BBK merupakan representasi Universitas Airlangga di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sikap, etika, dan hasil kerja mahasiswa akan mencerminkan citra institusi.
“Apa yang saudara jalankan tidak hanya berdampak bagi masyarakat, tetapi juga membawa nama UNAIR. Kami berharap mahasiswa dapat bekerja dengan baik selama di lapangan dan kembali dengan selamat,” tuturnya.
Melalui program BBK berbasis SDGs ini, UNAIR menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya unggul dalam akademik dan riset, tetapi juga berkomitmen menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat melalui pengabdian yang berkelanjutan dan berdampak luas. (tas)
