Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»Seni Tradisi Lewat Pengabdian Masyarakat

Seni Tradisi Lewat Pengabdian Masyarakat

SENI BUDAYA redaksi01/08/2017 - 14:00 WIB

Sejak Minggu (30/7) pagi, puluhan pelajar dan warga meramaikan balai desa Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Mereka bersiap mengikuti lomba tari tradisional kreasi dan nembang macapat yang dilaksanakan atas kerjasama Departemen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga (FIB Unair) Surabaya dengan Desa Kemloko.

Lomba itu merupakan rangkaian pengabdian masyarakat yang dilakukan Departemen Sastra Indonesia sebagai bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi. Telah empat tahun berjalan, Desa Kemloko menjadi desa binaan Departemen Sastra Indonesia FIB Unair. Komitmen ini dijalankan secara terus menerus dengan mengembangkan Desa Kemloko melalui beragam kegiatan.

Nasrudin Abdul Haris selaku Ketua Panitia Acara mengucapkan terimakasih kepada tim dari UNAIR yang telah memilih Desa Kemloko sebagai desa binaan. Ia berharap, kerjasama yang telah dirintis empat tahun itu dapat terus berlanjut dengan pengembangkan potensi desa yang lain. “Lomba ini kita selenggarakan untuk nguri-nguri budaya. Mudah-mudahan kerjasama ini berkelanjutan,” ucap Nasrudin seperti dirilis PIH Unair.

Sebelum lomba berlangsung, salah satu dosen Drs Tubiyono MSi memberikan sosialisasi tentang pemanfaatkan website untuk melakukan promosikan potensi desa. Dalam kesempatan itu, dirilis website resmi Desa Kemloko yang dapat diakses melalui laman www.wisatakemloko.com. Laman itu dikelola langsung oleh Departemen Sastra Indonesia untuk pengembangan bersama.

Selama ini, di Desa Kemloko memiliki tradisi pembacaan serat Ambiya yang dilakukan oleh keluarga yang baru melahirkan. Pembacaan serat ambiya dilakukan semalam suntuk, dengan rentan waktu sesuai permintaan pemilik hajat.

“Pembacaan serat Ambiya di Kemloko ini luar biasa. Berbeda dengan di desa-desa lain, karena dibacakan secara bersama-sama setelah kelahiran bayi. Hari ini dibacakan oleh orang-orang tua. Mudah-mudahan di tahun yang akan datang pengmas bisa dilakukan dengan diikuti generasi junior,” ucap Dr Dra Trisna Kumala Satya Dewi MS selaku pengampu mata kuliah Metode Penelitian Filologi (MPF).

Pengmas kali ini juga diikuti oleh mahasiswa yang mengambil konsentrasi Filologi dengan mata kuliah MPF. Dari tahun-ketahun, Departemen Sastra Indonesia rutin mengadakan pengmas dengan mengajak serta mahasiswa.

Lomba macapat pada siang hari itu diikuti oleh mayoritas warga yang telah berusia senja. Salah satu peserta lomba macapat Sujianto (77) mengaku gembira dapat berpartisipasi dalam lomba macapat. Pensiunan guru itu memiliki lima anak buah. Mereka biasa diundang macapatan ketika ada warga yang bayen (baru melahirkan).

“Kawit alit pun remen. Panggah demen sampek saiki. Sebulan kadang-kadang ping pindho, kadang ping papat. Tergantung enek bayen apa enggak. (Sejak kecil sudah suka dengan macapatan. Tetap suka sampai sekarang. Sebulan bisa ditanggap dua kali, kadang empat kali. Tergantung kalau ada hajatan kelahiran bayi, -red),” ujar laki-laki yang nembang Pangkur dan Dandanggula waktu lomba ini. (sak)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.