Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga kembali mencatat prestasi internasional. Pada penyelenggaraan Animal Welfare Indonesia International Conference (AWIIC) 2025 yang berlangsung di Royal Kuningan Hotel, Jakarta, UNAIR menjadi satu-satunya delegasi resmi dari Indonesia.
Konferensi berskala global ini mempertemukan pimpinan, ilmuwan, praktisi, dan aktivis dari berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi penelitian, kebijakan, dan inovasi di bidang kesejahteraan hewan.
Presentasi Penelitian Satwa Eksotik oleh Mahasiswa UNAIR
Di bawah bimbingan drh. Amung Logam Saputro M.Si, mahasiswa kedokteran FIKKIA UNAIR, Amalia Sofi, tampil sebagai perwakilan dengan mempresentasikan paper dan poster ilmiah mengenai isu kesejahteraan satwa eksotik. Penelitian tersebut menyoroti praktik topeng monyet, sebuah atraksi jalanan yang masih ditemukan di sejumlah daerah Indonesia.
“Saya merasa perlu menyuarakan kondisi satwa yang selama ini tidak memiliki ruang untuk didengar. Penelitian ini lahir dari keprihatinan saya melihat hewan eksotik yang sering diperlakukan bukan sebagai makhluk hidup, tetapi sebagai alat hiburan,” ungkap Amalia.
Sorotan pada Satwa Eksotik Terlindungi
AWIIC 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan JAAN Domestic Indonesia dan FOUR PAWS International menjadi konferensi pertama di Indonesia yang memadukan prinsip Five Freedoms dengan pendekatan One Health. Kegiatan tersebut dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam pengendalian rabies, pencegahan perdagangan satwa ilegal, serta penguatan kolaborasi lintas sektor melalui Pergub No. 36/2025.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menata masa depan kota yang lebih berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam penelitian berjudul Evaluation of Primate Welfare in Dancing Monkeys Practices: A Study of the Street Entertainment Industry, Amalia memaparkan kondisi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang kerap mengalami eksploitasi. Temuan menunjukkan adanya praktik pengurungan kronis, pelatihan paksa, kekurangan nutrisi, stres berkepanjangan, hingga hambatan perilaku sosial alami.
Masalah tersebut tidak hanya bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan, tetapi juga meningkatkan risiko zoonosis serta mengancam populasi monyet ekor panjang yang menurun hingga 40 persen dalam empat dekade terakhir.
Dampak Akademik dan Kebijakan
Keikutsertaan UNAIR dalam AWIIC 2025 memberikan manfaat strategis, mulai dari publikasi internasional hingga penguatan jejaring kolaborasi antara PB PDHI dan FOUR PAWS. Konferensi ini juga menghasilkan rekomendasi kebijakan terkait harmonisasi standar kesejahteraan satwa sesuai WOAH/OIE.
“Saya berharap penelitian ini menjadi langkah kecil yang membuka jalan menuju perubahan besar bagi kesejahteraan satwa eksotik di Indonesia,” ujar Amalia.
Prestasi tersebut menegaskan peran aktif UNAIR dalam isu global terkait kesejahteraan hewan dan mendorong kontribusi akademisi muda Indonesia di panggung internasional. (tas)

