Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR). Kenzo Yuswan, mahasiswa program studi S1 Ilmu Hukum, dinobatkan sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNAIR 2026 kategori disabilitas.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Direktorat Kemahasiswaan UNAIR sebagai bentuk apresiasi atas capaian akademik, rekam jejak prestasi, serta kontribusi gagasan yang berdampak bagi masyarakat.
Soroti Implementasi Pendidikan Inklusif
Dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres), Kenzo mengangkat isu strategis terkait pendidikan inklusif, khususnya bagi penyandang disabilitas sensorik seperti tuna netra. Ia menilai bahwa regulasi yang ada saat ini masih memerlukan penguatan, terutama dalam aspek implementasi di lapangan.
Melalui gagasannya, Kenzo mendorong evaluasi yang lebih sistematis terhadap pelaksanaan kebijakan pendidikan inklusif. Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam memastikan sekolah benar-benar memberikan akses setara bagi peserta didik disabilitas.
Selain itu, ia mengusulkan mekanisme insentif dan disinsentif bagi institusi pendidikan. Sekolah yang berhasil menerapkan pendidikan inklusif secara optimal perlu mendapat penghargaan, sementara yang belum memenuhi standar harus diberikan pembinaan hingga sanksi administratif.
Rekam Jejak Internasional dan Pengalaman Hukum
Kenzo bukan sosok baru dalam dunia akademik dan advokasi. Pada 2025, ia tampil sebagai pembicara dalam forum internasional yang membahas isu hak asasi manusia, dengan fokus pada akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Di tahun yang sama, ia juga menjalani program magang penelitian di Mahkamah Konstitusi. Pengalaman tersebut memberinya perspektif langsung mengenai sistem hukum dan aksesibilitas bagi kelompok disabilitas dalam proses peradilan.
Kombinasi antara pengalaman akademik, forum internasional, dan praktik langsung di lembaga negara menjadi fondasi kuat dalam perjalanan prestasinya.
Proses Seleksi Ketat dan Kompetitif
Untuk meraih gelar Mawapres, Kenzo harus melalui tahapan seleksi yang ketat. Mulai dari penyusunan portofolio prestasi, pembuatan video presentasi berbahasa Inggris, hingga pemaparan gagasan di hadapan dewan juri.
Salah satu tantangan utama adalah sesi tanya jawab yang mengharuskan peserta mengaitkan gagasan dengan isu strategis nasional. Namun, proses tersebut justru menjadi ruang pengembangan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi.
Komitmen Perjuangkan Hak Disabilitas
Bagi Kenzo, capaian ini bukan sekadar prestasi akademik, melainkan tanggung jawab untuk terus memperjuangkan isu yang ia tekuni. Ia menegaskan bahwa fokus utamanya ke depan adalah memastikan kebijakan yang ada dapat diimplementasikan secara nyata.
Ia berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar inklusif, di mana penyandang disabilitas mendapatkan hak yang setara tanpa diskriminasi.
Dengan pencapaian ini, Kenzo Yuswan menjadi representasi generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial tinggi terhadap isu keadilan dan kesetaraan. (tas)

