Masalah obesitas di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun dan berdampak luas, tidak hanya pada kesehatan masyarakat tetapi juga pada pembiayaan sistem jaminan kesehatan nasional. Merespons kondisi tersebut, Tim SGREEFIT dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggagas sebuah program dengan strategi terintegrasi untuk membangun ekosistem kebugaran yang berkelanjutan.
Gagasan ini berangkat dari belum optimalnya penanganan obesitas secara sistematis di Indonesia. Selain meningkatkan risiko berbagai penyakit, obesitas juga dinilai berkontribusi pada tekanan anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang selama ini menanggung sebagian besar biaya penanganan penyakit terkait obesitas.
Melalui SGREEFIT, mahasiswa ITS menawarkan pendekatan terpadu yang menghubungkan layanan kesehatan dengan fasilitas kebugaran. Program ini memanfaatkan infrastruktur yang telah ada, seperti BPJS Kesehatan, aplikasi Mobile JKN, serta pusat kebugaran, lalu mengintegrasikannya dalam satu alur penanganan obesitas yang lebih sistematis dan terukur.
Konsep SGREEFIT dirancang berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB), yang menekankan tiga faktor utama dalam membangun kebiasaan berolahraga. Faktor tersebut meliputi sikap positif terhadap manfaat olahraga, dukungan norma sosial yang diperkuat oleh institusi, serta kemudahan akses fasilitas kebugaran yang didukung regulasi.
Dalam implementasinya, faktor pertama diperkuat melalui pemanfaatan teknologi smart gym dan Internet of Things (IoT) untuk memantau kondisi kesehatan peserta. Faktor kedua didukung melalui sinergi dengan program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang terintegrasi dengan BPJS Kesehatan. Sementara faktor ketiga diwujudkan lewat kemudahan akses ke fasilitas kebugaran yang bekerja sama dengan sistem jaminan kesehatan.
Program SGREEFIT dimulai dari tahap konsultasi medis untuk memperoleh rekomendasi aktivitas fisik sesuai kondisi masing-masing peserta. Selanjutnya, peserta menjalani program olahraga di pusat kebugaran yang terhubung dengan BPJS. Untuk menjaga konsistensi dan motivasi, sistem ini juga dilengkapi unsur gamifikasi berupa pemberian poin dan voucher bagi peserta yang menjalani program secara disiplin.
Pengembangan program ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemuda dan Olahraga, tenaga medis, ahli gizi, sport scientist, hingga partisipasi aktif masyarakat. Seluruh rancangan kebijakan dan rekomendasi teknis telah dirangkum dalam dokumen policy brief sebagai dasar implementasi program secara lebih luas.
Berdasarkan perhitungan tim, penurunan prevalensi obesitas sebesar 35 persen melalui program ini berpotensi mengurangi beban pengeluaran BPJS Kesehatan hingga sekitar Rp10,5 triliun. Estimasi tersebut didasarkan pada asumsi bahwa sebagian besar biaya akibat obesitas selama ini ditanggung oleh BPJS, sehingga penghematan tersebut dinilai signifikan dalam membantu menekan defisit anggaran.
Atas inovasi tersebut, Tim SGREEFIT yang dibimbing oleh dosen ITS Alfan Purnomo berhasil meraih medali perak kategori presentasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-38 tahun 2025. Inisiatif ini juga menjadi kontribusi ITS dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta poin ke-9 terkait industri, inovasi, dan infrastruktur.
Ke depan, program SGREEFIT diharapkan dapat dikembangkan sebagai salah satu strategi nasional dalam penanganan obesitas di Indonesia secara berkelanjutan dan berbasis kolaborasi. (tas)

