MADIUN – Upaya pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan masyarakat dilakukan oleh mahasiswa KKN-BBK 7 Universitas Airlangga (UNAIR) di Desa Pilangrejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Melalui program BRIKEDES, mahasiswa memperkenalkan pengolahan limbah serbuk kayu menjadi briket sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket tersebut dilaksanakan di Balai Desa Pilangrejo pada Minggu (18/1/2026). Program ini menyasar warga desa, khususnya ibu-ibu PKK, yang dinilai memiliki peran strategis dalam pengelolaan rumah tangga dan ekonomi keluarga.
Penanggung jawab kegiatan, Devan Prawira Wardaya, menyampaikan bahwa Desa Pilangrejo memiliki potensi limbah kayu cukup besar karena sebagian warganya bekerja sebagai pengrajin dan pengolah kayu. Namun, limbah serbuk kayu selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami melihat limbah serbuk kayu sering dibiarkan begitu saja. Padahal, jika diolah menjadi briket, limbah ini dapat menjadi sumber energi alternatif yang ekonomis dan berkelanjutan,” jelas Devan.
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa menjelaskan berbagai keunggulan briket kayu, seperti efisiensi biaya bahan bakar, pengurangan limbah lingkungan, serta ketahanan panas yang lebih lama dibandingkan kayu bakar biasa. Warga juga dibekali pengetahuan teknis mengenai tahapan pembuatan briket secara sederhana dan aplikatif.
Demonstrasi pembuatan briket dilakukan secara langsung, mulai dari proses pengarangan serbuk kayu, pencampuran dengan perekat tepung tapioka, pencetakan, hingga proses pengeringan. Metode ini dirancang agar mudah diterapkan oleh masyarakat desa dengan peralatan sederhana.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari peserta yang tampak antusias mengikuti setiap tahapan. Tim KKN-BBK 7 UNAIR berharap inovasi briket kayu ini dapat dikembangkan menjadi usaha produktif, sejalan dengan potensi Kabupaten Madiun yang sekitar 40 persen wilayahnya berupa kawasan hutan.
Selain mendukung pengelolaan lingkungan, program ini diharapkan mampu membuka peluang kerja baru serta meningkatkan perekonomian masyarakat desa melalui pemanfaatan limbah secara berkelanjutan. (tas)
