Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»PERISTIWA»Makna Hari Kartini 2026: Guru Besar UNAIR Tekankan Otonomi dan Tantangan Beban Ganda Perempuan

Makna Hari Kartini 2026: Guru Besar UNAIR Tekankan Otonomi dan Tantangan Beban Ganda Perempuan

PERISTIWA Tiara AS22/04/2026 - 08:32 WIB
Guru Besar UNAIR ungkap makna Hari Kartini 2026, soroti pentingnya otonomi perempuan dan tantangan beban ganda di era modern.

Peringatan Hari Kartini tidak hanya dimaknai sebagai simbol perayaan budaya, tetapi juga sebagai ruang refleksi atas dinamika perjuangan perempuan di era modern. Guru Besar Sosiologi Gender Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Emy Susanti, menyoroti bahwa esensi perjuangan perempuan saat ini telah bergeser ke arah yang lebih kompleks, terutama terkait otonomi dan beban ganda yang masih melekat.

Menurut Prof. Emy, pemikiran R.A. Kartini sejak awal telah menekankan tiga aspek utama, yakni akses pendidikan, pengentasan kemiskinan, serta kesehatan reproduksi perempuan. Ia menilai ketiga aspek tersebut masih relevan hingga saat ini, terutama dalam konteks pembangunan sumber daya manusia yang inklusif.

Dalam pandangannya, peningkatan akses pendidikan bagi perempuan belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan kesetaraan. Hal yang lebih mendasar adalah sejauh mana perempuan memiliki kendali atas pilihan hidupnya. Otonomi, menurutnya, menjadi indikator penting yang menandai apakah perempuan benar-benar telah berdaya atau masih berada dalam tekanan sosial.

Prof. Emy menjelaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada capaian akademik, tetapi harus mampu membentuk kesadaran kritis. Tanpa adanya kebebasan dalam menentukan arah hidup, pendidikan berisiko kehilangan makna substantifnya bagi perempuan.

Ia juga menyoroti fenomena beban ganda yang masih dihadapi perempuan, terutama dalam situasi ekonomi yang tidak stabil. Dalam banyak kasus, perempuan tidak hanya menjalankan peran domestik, tetapi juga turut mengambil tanggung jawab sebagai pencari nafkah. Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis yang membutuhkan perhatian serius.

Menurutnya, konstruksi sosial yang masih menempatkan perempuan sebagai penanggung jawab utama urusan domestik menjadi salah satu faktor yang memperkuat beban tersebut. Akibatnya, perempuan kerap harus menyeimbangkan tuntutan rumah tangga dengan peran publik secara bersamaan.

Di tengah tantangan tersebut, Prof. Emy menilai bahwa kekuatan perempuan terletak pada kemampuan membangun jejaring sosial. Solidaritas antarperempuan, baik dalam lingkungan keluarga maupun komunitas, menjadi modal penting dalam menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.

Ia mencontohkan praktik saling membantu dalam pengasuhan anak maupun dukungan emosional antarperempuan sebagai bentuk ketahanan sosial yang masih bertahan hingga kini. Jaringan ini dinilai mampu menjadi mekanisme adaptasi yang efektif di tengah berbagai keterbatasan.

Lebih lanjut, Prof. Emy juga menyinggung implementasi program Pengarusutamaan Gender yang telah dijalankan pemerintah. Meski demikian, ia menilai bahwa pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, sehingga peran masyarakat tetap dibutuhkan untuk memperkuat pemberdayaan perempuan secara mandiri.

Dalam momentum Hari Kartini 2026, ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya memahami sejarah perjuangan perempuan, tetapi juga menerjemahkannya dalam tindakan nyata. Penguatan kolaborasi, solidaritas, serta kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang.

Refleksi Hari Kartini, menurutnya, seharusnya tidak berhenti pada simbolisasi, melainkan menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan terus berlanjut dalam bentuk yang berbeda. Dengan memperkuat otonomi dan solidaritas, perempuan diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan budaya secara lebih berdaya. (tas) 

beban ganda perempuan Hari Kartini 2026 kesetaraan gender otonomi perempuan perempuan modern Prof Emy Susanti sosiologi gender Unair
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.