Close Menu
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
Facebook X (Twitter) Instagram
Terbaru
  • Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan
  • Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin
  • Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan
  • Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan
  • PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers
  • Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia
  • DJP Jatim I Gandeng GP Ansor Perluas Edukasi Perpajakan dan Tingkatkan Kepatuhan Wajib Pajak
  • Sinergi UNAIR dan ILO Siapkan Generasi Muda Hadapi Transisi Energi Berkeadilan
Facebook X (Twitter) Instagram
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
  • BERANDA
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • GAYA HIDUP
  • KESEHATAN
  • RUBRIK LAIN
    • TEKNOLOGI
    • KOMUNITAS
    • PROFIL
    • JALAN-JALAN
    • SENI BUDAYA
jurnalindonesia.netjurnalindonesia.net
Home»SENI BUDAYA»“Memetri Kriya”, Menjaga Warisan Budaya

“Memetri Kriya”, Menjaga Warisan Budaya

SENI BUDAYA redaksi22/11/2017 - 15:00 WIB

Seni kriya adalah sebutan untuk karya yang penggarapannya sarat dengan ketrampilan tangan, mempunyai nilai estetika yang tinggi, namun tetap fungsional.

Berangkat dari satu persamaan visi untuk tetap menjaga keaslian warisan budaya (memetri) sebagai identitas bangsa ditengah kemajuan teknologi, mendorong House of Sampoerna (HoS) bekerjasama dengan UNESA Jurusan Seni Rupa menggelar pameran bertajuk “Memetri Kriya” yang akan dihelat di Galeri House of Sampoerna pada 24 November 2017 hingga 06 Januari 2018.

Pada seni kriya, para Pande atau Kriyawan berkreasi dengan menggunakan teknik warisan para leluhur. Seperti karya kriya logam dengan teknik ukir menggunakan alat pahat ukir logam dan landasan jabung. Kriya keramik dengan teknik tekan, pilin dan bidang. Karya batik dengan menggunakan canting dan malam sebagai perintang warna. Dan kriya kayu dengan teknik ukir menggunakan pahat ukir kayu.

Pada perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, beberapa bahan maupun peralatan sudah tidak lagi dapat ditemukan, dan harus digantikan dengan peralatan yang lebih modern.

Namun untuk menciptakan karya yang beridentitaskan Indonesia, peralatan modern ini digunakan hanya sebagai alat penunjang. Ketrampilan tangan para Pande tetap merupakan modal utama penciptaan sebuah karya kriya.

Penciptaan kriya berkonsep kekinian dengan tetap menjaga proses pembuatannya sesuai dengan warisan Pande leluhur, dapat dilihat pada karya yang ditampilkan oleh Jafar Huda Cahyanto berjudul “Maha Atma”, yang menggunakan logam wudulan dan endak-endakan yang diukir indah pada tembaga, beton eser dan kayu mahoni.

Juga tak kalah unik karya Singgih Prio Wicaksono dengan judul “Konsumsikillme”, karya pahatan yang menggunakan media kayu mahoni, sampah kemasan dan resin ini dimaksud untuk mengkritisi budaya konsumerisme yang tumbuh pesat di masyarakat saat ini, yang tanpa disadari akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem.

Tidak hanya mahasiswa, dosen pengampu dan alumni pun ikut menghadirkan kurang lebih 30 karya kriya yang melibatkan 16 peserta dari FBS UNESA.

Antara lain Achmad Nuries, Achmad Hozairi, Chrysanti Angge, Cokro Retantoko, Faisall Wilma, Fera Ningrum, Huda Cahyanto, Muchlis Arif, Muhamad Taufik, Nurul Dwi Injaya, Okiek Febrianto, Prastyawan, Singgih Prio, Sofia, Marwati, Sulbi Prabowo, Wahyu Ferdiyan.

“Pameran Memetri Kriya ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi mahasiswa Jurusan Seni Rupa Unesa, khususnya dan para penikmat seni pada umumnya untuk terus menjaga, mempertahankan serta melestarikan warisan budaya leluhur melalui sebuah karya seni” ujar Indah Chrysanti Angge selaku Dosen pengampu mata kuliah Kriya Logam.

“Arus kemajuan teknologi pada era milenial yang begitu pesat bukan untuk menjadi sebuah pembenaran untuk ikut terseret dan menjauh dari identitas bangsa. Teknologi justru adalah sebuah peluang dalam proses berkreasi, yang bukan untuk mendominasi dan menenggelamkan nilai-nilai tradisi yang telah tumbuh turun menurun di masyarakat tradisional” ujar Ina Silas, General Manager HoS. (ita)

Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Reog Purbaya Surabaya Raih Juara 3 Nasional FNRP 2026, Lampaui Target dan Harumkan Kota Pahlawan

16/06/2026 - 12:59 WIB

Reog Purbaya Surabaya Tampil Memukau di Festival Nasional Reog Ponorogo 2026, Bidik Posisi Lima Besar

14/06/2026 - 14:05 WIB

Dedikasi Tiga Garda Terdepan Cagar Budaya

27/02/2026 - 10:43 WIB

Meriahkan Hari Guru, KGPS Luncurkan Buku Puisi

01/12/2025 - 11:00 WIB

Pos Bloc Medan, Simbol Transformasi Digital

18/11/2025 - 15:00 WIB

GeLORa Wadahi PT Tingkatkan Peran sebagai Pelestari Budaya

14/11/2025 - 13:00 WIB

Comments are closed.

Telusuri Dugaan Pungli PKL CFD, Wali Kota Eri Pastikan Pedagang Gratis Berjualan

19/07/2026 - 19:19 WIB

Pemkot Surabaya Perketat Pengawasan Parkir Tempat Usaha, Pastikan Tarif Transparan dan Berizin

19/07/2026 - 19:03 WIB

Surabaya Siap Jadi Tuan Rumah Piala Presiden 2026, Stadion GBT dan Fasilitas Latihan Telah Dipersiapkan

19/07/2026 - 18:56 WIB

Gubernur Khofifah Terkesan Fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi, Bukti Nyata Negara Siapkan Generasi Emas dan Putus Mata Rantai Kemiskinan

19/07/2026 - 18:47 WIB

PWI Pusat Sesalkan Pernyataan Hotman Paris, Tegaskan Wartawan Dilindungi UU Pers

19/07/2026 - 18:29 WIB

Fundamental Ekonomi dan Reformasi Transparansi Perkuat Daya Tarik Investasi Indonesia

17/07/2026 - 19:50 WIB
© 2026 jurnalindonesia.net | kabar baik untuk Indonesia
  • TENTANG KAMI
  • IKLAN
  • DISCLAIMER
  • KONTAK
  • INDEKS

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.